- 13 Mar 2023
- 2 menit membaca
Diperbarui: 2 hari yang lalu
PERSOALAN utang piutang kerap memicu perselisihan. Akibatnya bahkan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti kekerasan, pembunuhan hingga pembuangan, seperti dialami Kapitan Melayu Wandoellah. Ia dibuang ke Ceylon (kini Sri Lanka) karena berani menagih utang kepada Diederik Durven, yang kemudian menjabat Gubernur Jenderal Hindia Belanda (berkuasa 1729–1732).
Arsiparis-cum-sejarawan Mona Lohanda dalam Sejarah Para Pembesar Mengatur Batavia menyebut Wandoellah merupakan putra seorang Kapitan Melayu bernama Wan Abdul Bagus yang berperan dalam mendirikan Kampung Melayu di wilayah Meester Cornelis (kini Jatinegara). Wandoellah menggantikan posisi ayahnya menjadi Kapitan Melayu selama 16 tahun sejak 1716 hingga dipecat oleh Gubernur Jenderal Durven.
Menurut ahli sejarah Jakarta, Adolf Heuken SJ dalam Tempat-tempat Bersejarah di Jakarta, di zaman kolonial Belanda, Kapitan Melayu merupakan tokoh yang berpengaruh di dalam masyarakat. Selain menjadi perantara bagi pihak pemerintah kolonial dengan penguasa pribumi, Kapitan Melayu juga bertindak sebagai ceremonie-meester atau kepala protokol.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















