- 19 Sep 2023
- 2 menit membaca
Diperbarui: 9 Jun
KENDATI tak mengerti politik apalagi terlibat di dalamnya, peristiwa politik G30S telah menghancurkan hidup Ir. Djoko Sri Moeljono. Mimpi insinyur metalurgi lulusan Moskowskii Institut Stali i Splawov (Institut Baja dan Alloida Moskwa) itu untuk ikut membangun negeri lewat ilmu yang dimilikinya musnah seketika. Tak hanya Proyek Baja Trikora (cikal-bakal Krakatau Steel), tempatnya bekerja, yang terhenti akibat gonjang-ganjing politik usai G30S tapi juga dirinya ikut dijadikan tahanan politik (tapol).
Menjadi tapol di masa kekuasaan Orde Baru (Orba) ibarat tinggal selangkah lagi ke akhir hidup. Bila selamat dari kematian, tapol tetap harus menjalani kehidupan yang berat, mulai dari disiksa aparat, dihina sampai dikucilkan masyarakat hingga akhir hayat.
Djoko tak pernah tahu apa kesalahannya. Seperti ribuan tapol ’65 lain, dia tak pernah diadili. Yang dia tahu hanyalah hidupnya seketika berubah dan kemerdekaannya hilang lantaran harus mendekam dalam sel. Sedikit “kemerdekaan” baru diraihnya setelah dia dan tapol-tapol lain di Banten dikerahkan dalam proyek-proyek pembangunan daerah sebagai “romusha” alias pekerja paksa.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















