top of page

Elizabeth Ida dan Gambar yang Bicara

Seorang perupa mengangkat kejahatan kemanusiaan pada 1965 menjadi tema karyanya. Dekonstruksi tanpa provokasi.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Elisabeth Ida menjelaskan pada pengunjung pameran fotografi "De/Re Konstruksi 1965, Sejarah Siapakah?" di Kedai Tempo, Jakarta, Sabtu, (20/2). (Nugroho Sejati/Historia.ID).

21 Feb 2016
2 menit membaca

Diperbarui: 2 hari yang lalu

GAMBAR beringin, mozaik orang baris-berbaris, lelaki berpeci dengan mata menyalang, monumen Lubang Buaya, yang terbingkai dalam satu poster foto, menyambut pengunjung di ruang pamer Kedai Tempo, Jalan Utan Kayu 68 H-Jakarta. 


Poster foto itu tidak sendiri, masih ada empat instalasi video dan sepuluh karya fotografi di sana, yang tersaji dalam pameran tunggal Elizabeth Ida Mulyani dengan tajuk "De/Re Konstruksi 1965, Sejarah Siapakah?" yang dikuratori oleh Joachim Naudts.


Pada sudut ruangan, terpampang 24 potongan foto seukuran kartu pos dari film Pengkhianatan G30S/PKI karya Arifin C. Noer, mulai dari penjemputan jenderal, tentara yang menembak, hingga ekspresi pada jenderal yang akan dieksekusi.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Di usianya yang masih muda, Semaoen memimpin dan menggerakkan serikat buruh. Dia memperjuangkan pekerja tertindas dengan melancarkan pemogokan, sampai diusir pemerintah kolonial.
bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
transparant.png
bottom of page