top of page

Habis Gedong Tataan Terbukalah Gadingrejo

Gadingrejo adalah desa penting dalam sejarah Kabupaten Pringsewu. Koloni atau daerah transmigrasi Jawa kedua setelah Gedong Tataan.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Para transmigran Jawa di Sumatra era Hindia Belanda (ANRI)

30 Mei 2025
2 menit membaca

SETELAH pemerintah Hindia Belanda menerapkan Politik Etis, program Kolonisatie atau transmigrasi kolonial –yang para transmigran atau pendatangnya disebut kolonist– pun dijalankan. Mula-mula, pemerintah membuat semacam koloni untuk daerah permukiman pendatang. Gedong Tataan di Pesawaran, Lampung terpilih sebagai yang pertama.

 

Koran Soerabaijasch Handelsblad tanggal 14 Mei 1907 mencatat, mula-mula ada dua daerah yang dibuka: Paal 17 dan Paal 27 dari arah Telukbetung. Yang dimaksud Paal 17 adalah daerah bernama Gedong Tataan.

 

Kemudian, Paal 27 yang berada di sekitar Pasar Gadingrejo sekarang menyusul berikutnya. Permukiman kedua dibuka jauh di sisi barat Gedong Tataan. Soebaijasch Handelsblad tanggal 17 Mei 1907 menyebutkan, Gadingrejo inilah yang pada 1907 disebut sebagai permukiman kedua yang sedang direncanakan. Letakya di sisi Sungai Gadingrejo.

 

Pada Januari dan Februari 1907, jumlah keluarga bertambah 260 sehingga terdapat 335 keluarga. Dari 335 keluarga itu, totalnya terdapat 1171 jiwa dengan rincian 291 laki-laki yang sudah menikah, 291 perempuan yang sudah menikah pula, ditambah 96 laki-laki belum menikah,  90 perempuan belum menikah, dan 205 anak-anak. Setelah bulan-bulan itu, jumlah penduduknya akan bertambah lagi. Mereka yang belum datang ini akan berangkat ke daerah permukiman baru itu bersama-sama.

 

Daerah yang akan mereka datangi adalah daerah yang baru dibuka, namun bukan berarti tidak ada warga yang mendahului mereka dalam radius 100 km dari titik daerah baru itu. Orang Lampung asli sudah hidup di Pekon Margakaya atau Desa Margakaya. Ada yang menyebut, kampung ini sudah ada sejak 1738 alias lebih dari satu setengah abad sebelum para transmigran ini. 

 

Selain warga Lampung asli, ada pula beberapa transmigran yang datang lebih dulu pada 1907. Soebaijasch Handelsblad tanggal 17 Mei 1907 memberitakan bahwa pada awal Juli 1906 sudah ada sekelompok transmigran yang sudah menetap di sana. Para transmigran itu mendapatkan subsudi beras dari pemerintah kolonial kerena mereka belum punya pemasukan, sebab lahan sawah dan kebun belum mereka tergarap.

 

Pemerintah kolonial menyediakan pondokan sementara untuk mereka tinggali semari membangun rumah dan lahan-lahan yang di antaranya sawah. Ketika itu, 140 rumah dibangun, di mana satu rumah bisa menampung tiga keluarga. Sarana irigasi untuk 23 hektare sawah juga disiapkan. Seorang kepala desa atau lurah juga akan dipekerjakan di daerah Gadingrejo itu. Sama seperti di Desa Bagelen, Gedong Tataan.  

 

Pemerintah kolonial membiarkan hubungan antara orang Jawa di Lampung dengan keluarga mereka di Pulau Jawa terus terjalin. Bahkan, para transmigran dianjurkan untuk saling surat-menyurat dengan keluarga mereka di Pulau Jawa. Untuk itu, tukang pos disediakan antara permukiman transmigran dengan Telukbetung yang menjadi pusat Lampung kala itu.

 

Terkait perhubungan, akses transportasi jelas menjadi perhatian pemerintah. Jalan poros pun diusahakan pemerintah kolonial sehubungan dengan program transmigrasi itu.

 

Maka begitu diresmikan, Gadingrejo terus berkembang menjadi daerah pertanian dan permukiman. Sebuah pasar kemudian berdiri di sana.

 

Pada 1910, permukiman baru banyak diusahakan berdiri di sekitar Gadingrejo. Salah satunya, diberitakan Apeldoornsche Courant edisi 22 Januari 1910), adalah Purworejo, namanya sama dengan nama sebuah kabupaten di Jawa. Setidaknya ada puluhan desa muncul setelah transmigrasi kolonial di Lampung bagian selatan. Banyak darinya memiliki nama Jawa.

 

Di wilayah yang lebih barat dari Gadingrejo, banyak desa transmigran berdiri. Salah satunya adalah Pringsewu. Desa ini pada era 1930-an telah membesar. Pada akhir dekade 1930-an, nama Pringsewu lebih banyak dibicarakan, di mana sebelumnya Gadingrejo yang lebih sering. Pringsewu lama-kelamaan menjadi pusat, bahkan kemudian menjadi nama kabupaten yang membawahi Gadingrejo.*

 


 

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
It was not without reason that Ahmad Subardjo was nicknamed “The Guarantor of Independence” in Indonesia. However, he was absent when Sukarno proclaimed independence.
bg-gray.jpg
Saat memimpin Jakarta, Sudiro dihadapkan pada kondisi berantakan. Putar otak demi pembangunan kota, termasuk cari dana di luar lungsuran dari pusat. Sering pula gagasannya ditolak pemerintah pusat.
bg-gray.jpg
Ahmad Subardjo was born in Karawang to a family of Acehnese and Javanese nobility. The beloved son of a civil service police officer, he moved to Batavia to continue his education at a Dutch school.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah became the first female minister in Indonesian history. She handled everything from diplomacy and labor issues to makeup and lipstick.
Piala Dunia Wanita bentuk pengakuan FIFA terhadap perjuangan puluhan tahun.
Piala Dunia Wanita bentuk pengakuan FIFA terhadap perjuangan puluhan tahun.
Beragam cara diambil untuk mengakali atmosfer stadion tanpa “pemain keduabelas”. Dari mural kontroversial hingga boneka seks.
Beragam cara diambil untuk mengakali atmosfer stadion tanpa “pemain keduabelas”. Dari mural kontroversial hingga boneka seks.
 Sejak dini, Sandiaga terobsesi beragam olahraga. Menurun dari orangtuanya
Sejak dini, Sandiaga terobsesi beragam olahraga. Menurun dari orangtuanya
Tuan rumah terhindar dari malu di Indonesia Open 2019 berkat kegemilangan ganda putra. Sektor yang dulunya dipandang sebelah mata.
Tuan rumah terhindar dari malu di Indonesia Open 2019 berkat kegemilangan ganda putra. Sektor yang dulunya dipandang sebelah mata.
Tragedi Kanjuruhan jadi salah satu petaka terparah dalam catatan sejarah.
Tragedi Kanjuruhan jadi salah satu petaka terparah dalam catatan sejarah.
Meski namanya masih asing di telinga, kerja keras bangsa Viking ini membuahkan prestasi dalam sepakbola.
Meski namanya masih asing di telinga, kerja keras bangsa Viking ini membuahkan prestasi dalam sepakbola.
transparant.png
bottom of page