top of page

Hartono Loyalis Sukarno

Letjen KKO Hartono setia kepada Presiden Sukarno. Dia adalah panglima pasukan khusus yang waktu itu kuat dan besar.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Letjen KKO Hartono, kedua dari kiri, sedang menerima Panglima Timur Jauh Kerajaan Inggris Laksamana O'brien, 25 April 1968 (IPPHOS/Perpusnas RI)

20 Nov 2023
3 menit membaca

Diperbarui: 6 Jan

SUATU waktu sekitar tahun 1967 di Solo, Jawa Tengah, kelompok Pemuda Marhaen dan Pemuda Muhamadiyah berseteru. Perkelahian fisik bahkan sampai terjadi. Polisi harus turun tangan melerainya. Mereka yang berkelahi lantas digelandang ke tahanan polisi. Ketua Pemuda Marhaen Hartomo juga ikut ditahan karena perkelahian yang tak jelas akar masalahnya itu. Pada hari ketiga, seorang polisi datang dan bertanya pada para tahanan.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page