top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Hatta yang Sentimentil

Dikenal jarang tertawa, Hatta justru mudah tersentuh dengan hal-hal yang terkait dengan perjuangan bangsanya.

Oleh :
31 Okt 2019

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Mohammad Hatta. (ANP).

  • 31 Okt 2019
  • 2 menit membaca

Diperbarui: 23 Jul 2025

APAKAH yang selalu dikenang oleh Mohammad Hatta dari masa kecilnya? Tentunya banyak. Namun menurut Meutia Hatta, ada satu peristiwa yang pernah dilihat Hatta saat bocah dan berpengaruh terhadap sikapnya ketika dewasa kelak, terutama soal sikap anti kolonialismenya.


“Yakni saat dia melihat sahabat kakeknya bernama Rais ditangkap karena mengkritik kebijakan seorang pejabat Hindia Belanda,” ungkap Meutia kepada Historia.


Dalam Memoirs, Hatta melukiskan peristiwa itu dalam nada yang sentimentil. Dia yang saat itu masih kanak-kanak (6 tahun), sangat meyakini kata-kata Idris, sang paman, yang meyebut Rais tak lebih sebagai korban kelicikan Belanda. Jauh sebelumnya, lewat surat pembaca di koran Utusan Malayu, Idris mengkritik ulah licik Tuan Westenenk (Asisten Residen untuk wilayah Agam) kepada rakyat Agam.


Masih tersamar, bagaimana prilaku licik Tuan Westenenk tersebut. Yang jelas dengan memitnah Rais terlibat dalam pemberontakan Kamang (penentangan rakyat Agam terhadap pajak tinggi yang dikenakan pemerintah Hindia Belanda), lelaki Minang itu akhirnya ditangkap.


Hatta sangat terkesan dengan sikap Rais yang terlihat sangat yakin bahwa dirinya tak bersalah. Dia menulis sosok itu sebagai lelaki yang melambaikan tangannya yang terbelenggu, kala kereta api yang membawanya ke Padang, melewati rumah keluarga besar Hatta di wilayah Aur Tajungkang, Bukittinggi.


Sikap sentimentil juga pernah diperlihatkan  oleh Hatta saat dirinya menjabat sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia. Alkisah pada suatu hari di tahun 1947, serombongan anggota Komisi Jasa-jasa Baik PBB dari Australia, Belgia dan Amerika Serikat datang ke Bukittinggi. Menurut Rosihan Anwar dalam Sang Pelopor: Tokoh-Tokoh Sepanjang Perjalanan Bangsa, rombongan tersebut lantas disambut oleh Hatta, diiringi rakyat banyak yang membawa bambu runcing.


Dalam sambutannya, Buya Hamka meneriakan pidato yang sarat emosi dan memunculkan rasa haru.


“Pernahkah tuan-tuan melihat negeri seindah ini? Gunung-gunungnya, sawah-sawahnya, hutannya yang hijau, dan kampung-kampunngnya? Selama 350 tahun, negeri yang kami cintai ini telah dirampas dari tangan kami, walaupun kami memilikinya! Kami hidup di dalamnya, tapi kami tak memilikinya. Kami dianggap budak-budak di negeri kami sendiri! Tuan-tuan, lihatlah bambu runcing-bambu runcing kami! Sekalipun hanya ini satu-satunya senjata yang kami punya untuk membela diri kami, kami tidak akan pernah membiarkan tanah air kami dijarah kembali!”


Semua terdiam mendengar pidato itu. Saat Hamka menoleh ke arah Hatta yang tengah berada di sampingnya, terkejutlah sang buya ketika menyaksikan wakil presiden RI pertama itu tengah berurai air mata.


27 tahun kemudian. Tepatnya 5 Oktober 1974, Yuke (panggilan akrab Rachmi Hatta) melihat suaminya sudah bersiap-siap sejak pagi. Kepada sang istri, Hatta menyatakan akan hadir dalam upacara peringatan hari ulang tahun angkatan bersenjata Republik Indonesia ke-29 di Lapangan Parkir Senayan, Jakarta. Tahu kondisi Hatta sedang sakit-sakitan, Yuke berusaha untuk mencegah kepergian Hatta.


“Ah, buat apa ayah datang ke sana? Ayah sekarang harus menjaga kesehatan. Ayah toh tidak akan dipedulikan orang. Sekarang kan, banyak orang telah lupa kepada Bung Hatta,” ujar Rachmi.


Hatta sejenak terdiam. Namun dengan tenang dia kemudian berkata: “Yuke tidak perlu bilang begitu. Saya kan dulu ikut juga membangun tentara nasional kita. Karena itu saya mau pergi. Biar saja orang lupa kepada saya, Bagi Kak Hatta, itu tidak penting. Cukup hati saya saja yang tahu bahwa dulu saya juga pernah ikut mendirikan angkatan perang Republik Indonesia.”


Demi mendengar kata-kata sang suaminya itu, diam-diam Rachmi Hatta merasa terharu.*




Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Masa Pahit Kesultanan Langkat

Masa Pahit Kesultanan Langkat

Kesultanan paling kaya di masa Hindia Belanda luluh lantak digilas revolusi sosial. Padahal, sang sultan telah menyatakan sumpah setia pada Republik Indonesia.
Menyibak Mitos Haji Djamhari

Menyibak Mitos Haji Djamhari

Penelitian membuktikan bahwa sosok Haji Djamhari sebagai penemu kretek benar-benar ada dan bukan tokoh fiksi.
Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam

Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam

Rumahsakit Bethesda Yogyakarta yang masih berdiri hingga kini merupakan buah "kasih" dr. Belanda bernama JG Scheurer.
Supriyadi Masuk Hutan dan Menghilang

Supriyadi Masuk Hutan dan Menghilang

Setelah memimpin pemberontakan PETA di Blitar, Supriyadi masuk hutan dan menghilang. Diduga telah dibunuh Jepang, tetapi dirahasiakan sehingga makamnya tidak ditemukan.
Donny God Bless Kritik Penguasa Generasi Ayahnya

Donny God Bless Kritik Penguasa Generasi Ayahnya

Basis God Bless Donny Fattah pandai menulis lagu dan peduli pada kehidupan bangsanya. Lagunya cukup kritis di era Orde Baru.
bottom of page