top of page

Herman Sarens Sudiro, Perwira yang Nyaris Ditembak Soeharto

Pernah menjadi perwira kesayangan Soeharto, tidak berarti Herman Sarens Sudiro lepas dari masalah dengan sang jenderal.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Herman Sarens Sudiro. (indonesianfilmcenter.com).

30 Jan 2018
3 menit membaca

Diperbarui: 11 Jul

MESKI dikenal sebagai orang dekat Soeharto, namun langkah Herman Sarens Sudiro tak selalu mulus. Kepalanya nyaris diterjang peluru oleh tangan Soeharto sendiri. Bagaimana mungkin? Herman Sarens menuturkannya dalam manuskrip otobiografi berjudul Cerita Seorang Tentara: Cuplikan Riwayat Kehidupan Herman Sarens Sudiro.


Ceritanya, pada pukul 09.00 pagi, 2 Oktober 1965, ketika Herman sedang mandi dirumahnya di Jalan Daksa Kebayoran Baru, tiba-tiba sang istri menggedor pintu dari luar. Ternyata ada telepon penting dari markas Kostrad. Panglima Kostrad, Mayor Jenderal Soeharto memerintahkan Herman agar segera menghadap dirinya.


Di markas Kostrad, Herman menuju ke ruang kerja Soeharto. Setelah memberi salam hormat, Soeharto mempersilahkan Herman duduk. Tanpa berbicara apa-apa, Soeharto hanya membuka laci mejanya dan mengambil sesuatu. Sepucuk pistol revolver diarahkan tepat ke muka Herman.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page