top of page

Hukum Sekehendak Sultan

Kesultanan Aceh tak selalu menerapkan hukum Islam. Seringkali sultan menjadi sumber hukum itu sendiri.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Persembahan upeti kepada raja Aceh. (Repro Orang Indonesia dan Orang Prancis dari Abad XVI sampai dengan Abad XX).

  • 22 Okt 2025
  • 9 menit membaca

Diperbarui: 20 Nov 2025

EMPAT abad lalu, di jalanan mudah ditemui orang Aceh yang hanya memiliki satu tangan dan satu kaki. Mangkuk menutupi dengkul. Tongkat bambu menopang badan ketika berjalan. Pemandangan itu disaksikan laksamana Belanda bernama Wybrand van Warwijck setelah kapal yang membawa rombongannya merapat di Aceh pada 1603. Katanya, bukan cuma rakyat biasa yang cacat. Bahkan, keponakan sultan tak lagi punya hidung, kuping, dan bibir atas.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Di usianya yang masih muda, Semaoen memimpin dan menggerakkan serikat buruh. Dia memperjuangkan pekerja tertindas dengan melancarkan pemogokan, sampai diusir pemerintah kolonial.
bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
transparant.png
bottom of page