- 20 Agu 2025
- 5 menit membaca
BANYAK orang mengenal mendiang I Gusti Kompyang (IGK) Manila sebagai perwira yang banyak jasa dalam olahraga, dari sepakbola hingga wushu. Purnawirawan mayor jenderal itu juga dikenal sebagai “Panglima Gajah” karena keberhasilannya memindahkan ratusan gajah di Sumatera Selatan. Namun, mungkin tidak banyak yang tahu bahwa di masa mudanya Manila pernah menemani Presiden Sukarno di masa kesepiannya di Wisma Yaso.
Pria kelahiran Singaraja, Buleleng, Bali pada 8 Juli 1942 itu meretas kariernya di militer dengan jadi taruna Akademi Militer Nasional (AMN) di Lembah Tidar, Magelang kurun 1961-1964. Saat menjadi taruna itulah Presiden Sukarno berkunjung didampingi sejumlah perwira tinggi, termasuk Menteri/Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad) Letjen Ahmad Yani. Mengingat Bung Karno juga punya darah Bali, ia pun melempar satu pertanyaan pada Manila.
“Bung Karno bertanya, mau jadi apa setelah lulus AMN? Manila menjawab, ingin menjadi pengawal Presiden. Jawaban yang membuat Jenderal Ahmad Yani yang ikut hadir, lantas tertawa. Jenderal Yani mengatakan, ‘Pengawal Presiden itu (pangkatnya) kolonel, seperti Maulwi Saelan, bukan letnan dua.’ Manila hanya terdiam,” tulis Hardy R. Hermawan dan Edy Budiyarso dalam biografi IGK Manila: Panglima Gajah, Manajer Juara.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















