top of page

Indonesia antara Republik dan Kerajaan

Silang pendapat mengenai bentuk negara Indonesia dalam sidang BPUPK. Diputuskan dengan pemungutan suara. Sebagian besar memilih republik.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Badan Penyelidik Usaha-usaha Kemerdekaan (BPUPK) menggelar sidang untuk mempersiapkan kemerdekaan Indonesia di tahun 1945. (ANRI/Wikipedia).

12 Agu 2024
3 menit membaca

Diperbarui: 3 Mei

ADA beberapa hal yang menjadi pembahasan para tokoh bangsa dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. Salah satunya bentuk negara yang akan dipilih, apakah republik, kerajaan atau federal.


Silang pendapat sempat terjadi ketika Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK) menggelar sidang untuk mempersiapkan rencana kemerdekaan Indonesia di tahun 1945. Dalam rapat tersebut, sejumlah anggota menjabarkan pandangan mereka mengenai bentuk negara yang ideal untuk Indonesia.


Tak hanya para anggota BPUPK yang menaruh perhatian besar terhadap bentuk negara Indonesia. Sukarno dalam otobiografinya, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia karya Cindy Adams, juga pernah membahas hal ini bersama Hatta.


“Pada bulan Maret [1945], Hatta dan aku terbang ke Makassar. Misi rahasia yang kami lakukan adalah melakukan pembicaraan tingkat tinggi guna menentukan bentuk yang sebenarnya dari negara kami nantinya,” sebut Sukarno.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page