- 17 Jan 2011
- 3 menit membaca
Diperbarui: 21 Apr
STASIUN Purbalingga, 1979. Suasana tidak ramai. Rangkaian kereta api baru saja masuk dari arah timur. Dengan menenteng dua koper, Paijo bergegas menaikinya. Di dalam, pemuda itu duduk berhadapan dengan pemuda asal Klaten bernama Slamet. Mereka berkenalan lalu mengobrol. Tujuan mereka sama: kuliah di Jakarta.
Jakarta tahun 1970-an sudah menjadi magnet bagi orang daerah untuk mencari kehidupan yang lebih baik atau menuntut ilmu. Paijo dan Slamet hanyalah sedikit di antaranya. Tapi mereka hanya bagian dari penggambaran realitas Jakarta kala itu. Kisah mereka hanyalah fiksi. Kehidupan mereka cuma bagian dari alur cerita film Mana Tahaaan, film perdana kelompok lawak ternama, Warkop.
Cikal-bakal Warkop bermula dari persahabatan beberapa mahasiswa Universitas Indonesia (UI) Rawamangun. Awalnya Rudy Badil dan Nanu Mulyono, lalu Kasino Hadiwibowo bergabung. Mereka sama-sama hobi naik gunung atau aktivitas alam, bermusik, dan bercanda. Yang paling kocak adalah Nanu dan Kasino. Celetukan keduanya sering bikin teman-teman mereka terpingkal. Keduanya juga sering memelesetkan lirik lagu-lagu yang lagi populer. Alhasil, duet mereka menarik mahasiswa lainnya. Nanu-Kasino sering diundang menghibur acara-acara kampus maupun pecinta alam.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















