Diperbarui: 20 Sep
SEKITAR September 1961. Suatu hari Konsulat RI di Singapura tiba-tiba menerima pesan kawat dari Jakarta. Bukan sembarang pesan, pengirimnya Istana kepresidenan. Dikabarkan bahwa Hartini, istri Presiden Sukarno, akan berkunjung ke Singapura secara incognito. Namun, kedatangan Hartini tanpa disertai Bung Karno yang harus menghadiri Konferensi Non Blok di Belgrade, Yugoslavia.
“Untuk Ibu Hartini telah saya sewakan mobil yang bagus dan modern, lebih bagus dari mobil kepala perwakilan, hanya memang tanpa bendera merah putih,” kata Kolonel Soegih Arto, konsul jenderal RI untuk Singapura, dalam otobiografi Sanul Daca: Pengalaman Pribadi Letjen (Pur.) Soegih Arto. Menurut Soegih Arto, penggunaan bendera Merah Putih tidak diperlukan karena kunjungan Hartini bersifat incognito.
Setelah penyambutan resmi oleh konsulat, Hartini dan rombongan langsung menuju Hotel Goodwood Park. Pada malamnya diadakan gala dinner di kediaman kepala perwakilan. Semua pejabat konsulat serta tokoh masyarakat Indonesia di Singapura hadir bersama istri masing-masing. Namun, suasana malam itu terasa “dingin” untuk seorang istri presiden.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















