top of page

Kisah Djokosujono dan Simatupang yang Terpisah

Djokosujono pernah satu rumah dengan T.B. Simatupang. Ia dieksekusi mati karena terlibat Peristiwa Madiun.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Jenderal Mayor Djokosujono. (Nijmeegsch dagblad, 27 September 1948).

3 Mar 2023
2 menit membaca

Diperbarui: 14 Agu

SEHARUSNYA Shodancho Djokosujono berada di Madiun. Sebab, ia bagian dari Daidan (Batalyon) tentara sukarela Pembela Tanah Air (Peta) di Madiun, daerah asalnya. Namun, pada 14 Agustus 1945 Djokosujono malah berada di Jakarta. Ia tinggal di rumah Sukarni di Jalan Fort de Kock (kini Jalan Minangkabau). Tiga hari kemudian, kemerdekaan Indonesia diproklamasikan di Pegangsaan Timur 56 Jakarta.


Djokosujono, kata T.B. Simatupang dalam Laporan Dari Banaran, adalah tipe pemuda yang sekitar tahun 1930 telah tertarik oleh pidato-pidato dan kursus-kursus dari Bung Karno, Bung Hatta, Bung Sjahrir, dan pemimpin gerakan-gerakan nasional lain, kemudian ia menjadi kader gerakan nasional itu.


Simatupang menganggap Djokosujono telah menjadikan sebagian yang dipelajarinya dari Marxisme dan lain-lain sebagai dogma. Simatupang mengakui rasa setiakawan Djokosujono cukup tinggi. Sebagai pejuang, musuh Djokosujono tentu saja Belanda yang ingin berkuasa lagi di Indonesia. Selain Belanda, kaum borjuis kapitalis, golongan ningrat dan priayi juga termasuk daftar musuh yang harus dienyahkan dalam kemerdekaan.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page