- Martin Sitompul

- 25 Sep 2024
- 3 menit membaca
Diperbarui: 18 Jan
KOLABORASI PNI dengan gerakan perempuan sudah berlangsung sejak awal mula partai itu berdiri. Kongres pertama PNI pada Mei 1928 di Surabaya menuai simpati yang besar dari golongan wanita. Terlebih karena dalam putusan kongres PNI mengupayakan perbaikan derajat kaum wanita: memerangi perkawinan anak, perkawinan paksa, dan memajukan perkawinan dengan satu istri (monogami). Putusan tersebut ditetapkan menjadi bagian AD/ART PNI saat itu.
“Pemimpin-pemimpin kaum wanita muda tampil ke muka seperti nona Suwarni Djojoseputro mula-mula dari Puteri Indonesia,” tulis Soenario dalam Banteng Segitiga.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












