- 14 Agu 2024
- 2 menit membaca
Diperbarui: 20 Mei
BELASAN perempuan menghadiri kongres Boedi Oetomo pertama di Yogyakarta pada 3 Oktober 1908. Mereka memang tak unjuk suara. Namun, upaya meningkatkan derajat kaum perempuan, terutama melalui pendidikan, menjadi salah satu usulan Boedi Oetomo cabang Batavia.
Kendati terlambat, pada 1912 sejumlah perempuan memprakarsai pembentukan organisasi perempuan di bawah naungan Boedi Oetomo. Namanya Poetri Mardika. Pemrakarsanya adalah Tengkoe Theresia Sabaroeddin, Sadikoen Tondokoesoemo, Soetinah Djoyopranoto, dan Roekmini. Theresia Sabaroeddin terpilih sebagai ketua –sebelum digantikan Soetinah pada 1915, Asiah Koesrin (1916), dan Siti Katidjah Abdoerachman (1918).
“Tujuan utamanya adalah untuk membantu pendanaan studi anak-anak perempuan yang pintar dan memberikan kesempatan bagi mereka untuk berpartisipasi di ruang publik,” tulis Cora Vreede-De Stuers dalam The Indonesian Woman: Struggles and Achievements.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















