- 10 Agu 2024
- 4 menit membaca
Diperbarui: 20 Mei
PETANG hari, 16 Januari 1909, sebagian anggota Boedi Oetomo seolah mendapat pencerahan. Dalam pertemuan Boedi Oetomo di Gambir yang dihadiri sekitar 300 anggota, Dirk van Hinloopen Labberton, sekretaris jenderal Himpunan Teosofi Hindia Belanda, menjabarkan soal masalah agama dan bagaimana cara menempatkannya sebagai dasar moral pergerakan bangsa Jawa.
Labberton berulang kali mengatakan, sudah kehendak Allah bahwa Indonesia kini dikuasai Belanda. Dia berbicara tentang persaudaraan kemanusiaan, teori-teori ras yang kabur, dan harapannya bahwa Tuhan dapat meningkatkan pengetahuan dan moralitas masyarakat Hindia.
Labberton juga menekankan pentingnya swawinaya (kedisiplinan diri) sebagai sarana rekonstruksi mental orang-orang Jawa. Caranya dengan meninggalkan tujuh kejahatan yang semuanya berawalan aksara ma: main (berjudi), madon (melacur), minum (mabuk), madat (mencandu), maling (mencuri), mada (menyumpahi), dan mangani (rakus).
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















