AWAL 1929, Kapten Carel Pieter Brest van Kempen mendapat tugas ke Surabaya. Kapten zeni itu, sebut De Locomotief tanggal 22 Februari 1929, diperintahkan memeriksa Benteng Prins Hendrik atau Pangeran Hendrik.
Kapten kelahiran Blitar, Jawa Timur itu tiba di Surabaya pada Sabtu, 16 Februari 1929 bersama satu detasemen zeni (sappers). Dia mesti bekerja cepat sebab pada Rabu, 20 Februari sudah diharuskan membuat penilaian terhadap benteng tua tersebut.
Pasukan zeni itu mengagumi konstruksi benteng yang dibangun seabad sebelumnya itu masih terlihat kokoh. Batu bata besar untuk membangun benteng itu dulu harus dikirim jauh-jauh dari Negeri Belanda. Maka terpikir oleh Kapten Brest van Kempen untuk melestarikannya. Sebab, banyak warga Eropa di Surabaya begitu menaruh minat pada sejarah benteng itu.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












