top of page

Kebanyakan Tentara, Irak Hancur

Terlalu banyak tentara bisa jadi masalah bagi sebuah negara. Irak di masa Saddam Husein contohnya.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Bangkai tank, pengangkut personel lapis baja, dan truk Irak yang hancur dalam serangan pasukan Koalisi selama Operasi Badai Gurun. (Staff Sgt. Dean Wagner/Wikipedia)

25 Agu 2025
3 menit membaca

PEMERINTAH belum lama ini resmi membentuk 100 Batalyon Teritorial Pembangunan (TP) dalam Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) untuk mendukung program-program pemerintah dan swasembada pangan. Tiap batalyon memiliki kompi pertanian dan peternakan.

 

Rencananya, tiap tahun akan dibentuk 100 Batalyon TP sehingga dalam lima tahun ke depan akan ada 500 Batalyon TP. Dengan begitu, TNI AD akan memiliki lonjakan jumlah personel. Sebagai gambaran, pada 2024 TNI AD memiliki 350.000 personel. Jika tiap batalyon terdapat setidaknya 500 personel, maka TNI AD ketambahan 50.000 personel baru.

 

Penggemukan postur jelas bukan terjadi pada militer Inodnesia di masa sekarang saja. Puluhan tahun silam, Irak di bawah Presiden Saddam Husein juga pernah memperbesar Angkatan Darat-nya. Ketika itu, alasan Irak bukan untuk menciptakan lebih banyak lahan pertanian dan perkebunan, melainkan karena sedang berperang dengan Iran dalam Perang Iran-Irak (1980-1988).

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page