- 8 Jun 2025
- 6 menit membaca
Diperbarui: 19 Mei
PADA awal 1908, keresahan melanda para petani. Mereka menyuarakan ketidakpuasan atas kenaikan pajak, kewajiban kerja rodi, dan korupsi di kalangan pemerintah. Demonstrasi kerap terjadi. Pada minggu pertama Mei, para petani di desa pinggiran Cong Luong berdemonstrasi menolak pajak yang tinggi. Ketika pejabat mandarin setempat datang dengan pasukan, kerusuhan pecah. Pejabat itu ditangkap dan sehari kemudian dibawa ke ibukota, Hue, di mana mereka berkumpul di depan kantor resident superieur Prancis sembari menyuarakan tuntutan mereka.
Pada 9 Mei, sekelompok siswa sekolah menengah berkumpul di tepi sungai di depan sekolah mereka, Quoc Hoc School, menonton kelompok besar petani yang membanjiri kota dari desa. Nguyen Tat Thanh mengajak kedua temannya untuk bergabung dengan kerumunan itu. Dia ingin menjadi penerjemah protes para petani kepada otoritas Prancis. Namun situasi memanas. Polisi menghadapi para petani dengan pukulan tongkat. Nguyen terkena beberapa kali.
Ketika kerumunan kian merangsek maju, resident superieur M. Lavecque setuju mengizinkan perwakilan petani untuk berdialog. Thanh menjadi penerjemah. Namun dialog menemui jalan buntu. Para petani menolak bubar. Akhirnya tentara Prancis tiba dan melepaskan tembakan ke arah demonstran yang menimbulkan jatuh korban.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















