top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Kematian Stalin dalam Banyolan

Kengerian dan kejenakaan berpadu dalam adegan-adegan intrik di seputar kematian Stalin.

12 Mar 2018

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Judul: The Death of Stalin Sutradara: Armando Iannucci Produser: Yann Zenou, Laurent Zeitoun, Nicolas Duval Adassovsky, Kevin Loader Pemain: Steve Buscemi, Simon Russell Beale, Jeffrey Tambor, Rupert Friend, Jason Isaacs, Andrea Riseborough, Michael Palin, Adrian McLoughlin, Olga Kurylenko Produksi: Main Journey, Quad Productions Distributor: eOne Films, Gaumont Genre: komedi satir politik Durasi: 107 menit Rilis: 9 Maret 2018.

KUNTSEVO, Uni Soviet, suatu malam di awal Maret 1953. Di ruang kerjanya di dacha (rumah peristirahatan), Joseph Stalin (Adrian McLoughlin) terbahak-bahak begitu membaca sebuah pesan yang terselip di sesela kiriman rekaman piringan hitam.


Pesan itu pesan sarkasme dari pianis cantik Maria Yudina (Olga Kurylenko). Saking tergelitiknya membaca pesan itu, Stalin sampai tak bisa menguasai dirinya. Sekejap kemudian, dia ambruk ke lantai.


Adegan itu membuka The Death of Stalin besutan Armando Iannucci. Meski mengisahkan detik-detik terakhir Stalin dan beragam intrik yang mengitarinya, Ianucci tak mengisahkannya dengan penuh adegan ketegangan tapi justru mengemasnya sebagai sebuah slapstick.


Adegan berganti. Lavrenty Beria (Simon Russel Beale), kepala Polisi Rahasia Uni Soviet NKVD, mengunjungi Stalin yang tersungkur dengan air kencing membasahi karpet akibat pendarahan otak. Beria langsung memanfaatkan momen sepi itu dengan mengutil sejumlah dokumen penting yang ada di ruang Stalin.


Beria “menang”. Aksinya selesai sebelum para kamerad Stalin seperti Georgy Malenkov (Jeffrey Tambor), deputi Sekjen Central Committee (CC) Partai Komunis Uni Soviet; Nikita Khrushchev (Steve Buscemi), ketua PK Moskow; dan Nikolai Bulganin (Paul Chahidi), menteri pertahanan, tiba.


Stalin, yang sempat siuman pada 5 Maret 1953, kembali tumbang. Tim dokter menyatakan dia meninggal. Kematiannya membuat konflik dan intrik yang mengitari kekuasaannya, terutama antara Beria dan Khrushchev, mengemuka. Adegan-adegan konflik keduanya langsung mendominasi film.


Baik Beria maupun Khrushchev sama-sama berupaya menarik kamerad-kamerad lain untuk berkubu di belakangnya. Beria, yang mengklaim punya semua dokumen yang bisa merugikan citra para politisi, berada di atas angin. Dia memerintahkan NKVD mengawasi markas-markas tentara di Moscow dan sekitarnya.


Namun, keputusan Beria mengizinkan para uskup Kristen Ortodoks memberi penghormatan pada jenazah Stalian sebelum dikuburkan pada 9 Maret 1953 menjadi titik balik bagi langkah politiknya. Khrushchev memanfaatkan betul momen itu setelah sebelumnya berhasil menggaet panglima tentara Marsekal Georgy Zhukov (Jason Isaacs) ke dalam kubunya. Zhukov kecewa terhadap Beria lantaran serdadunya dilarang secara sepihak oleh NKVD memasuki Moscow.


Bersama Zhukov, Khrushchev merancang kudeta. Dalam sebuah rapat CC partai yang dipimpin Malenkov (Michael Palin) dan Beria, Zhukov dan serdadunya berhasil menangkap Beria. Moscow direbut Tentara Merah. Khrushchev-Zhukov menang.


Kemenangan itu langsung diikuti aksi eksekusi Tentara Merah terhadap para loyalis Beria. Beria sendiri menjalani sidang darurat di sebuah gudang. Khrushchev membacakan sejumlah tuduhan terhadapnya, termasuk pemerkosaan Beria terhadap sejumlah gadis, bahkan anak di bawah umur.


Dan, sutradara menutup film dengan ending klimaks yang tak terlalu baik. Adegan-adegannya mudah ditebak. Semuanya bermuara pada kemudahan Khruschchev, yang anti-Stalin, dan kubunya; di sisi lain, kubu lawan politik, termasuk keturunan Stalin, memasuki masa kegelapan.


Kontroversi, Akurasi, dan Militansi


Meski baru tayang di Amerika Serikat pada 9 Maret 2018 lalu, premier drama-satir ini berlangsung pada 8 September 2017 di Inggris. Film berdurasi 107 menit ini menimbulkan kontroversi di kalangan pemerintah Rusia sehingga tak mendapat izin tayang. “Saya tak pernah melihat film yang lebih menjijikkan dari ini. Filmnya mengandung elemen-elemen ekstrimis,” ujar Yelena Drapeko, anggota Komite Kebudayaan Parlemen Rusia, sebagaimana dilansir RBK, 24 Januari 2018.


Kemarahan pemerintah Rusia bersumber dari sejumlah adegan komedi-fiktif yang sengaja dihadirkan Iannucci. Adegan ketika Malenkov menyiapkan fotonya yang berpose meniru Stalin –berfoto dengan seorang gadis cilik, misalnya, amat mengolok bagi pemerintah Rusia.


Sebagai film sejarah pun, Iannucci acap terpeleset dalam hal fakta. Sebagai contoh, adegan penyidangan Beria, digambarkan dilakukan secara darurat di sebuah gudang. Faktanya, Beria menjalani persidangan secara formal beberapakali, terakhir di Mahkamah Agung Luar Biasa, 23 Desember 1953.


Dakwaan yang dituduhkan kepada Beria pun bukan sebagaimana disajikan dalam film, pemerkosaan dan pedofilia. Beria faktanya didakwa dengan pasal pengkhianatan, terorisme, dan kontra-revolusioner –tak ada sama sekali catatan dakwaan pemerkosaan atau pedofilia.


Toh, film sejarah bukanlah buku sejarah yang melulu berisi fakta dan analisa. Terlepas dari biasanya plot dan alur plus pandangan miring “kacamata” Rusia, Iannucci berhasil menghadirkan sebuah drama apik dari sebuah masa di mana intrik amat kuat di berbagai tempat.


Hebatnya, Iannucci berani mendobrak. Dengan kemasan slapstick-nya, dia berhasil menampilkan fakta mengerikan yang lama “gelap” dari sebuah periode historis sekaligus mengolok-olok pihak yang di masanya amat ditakuti banyak orang. Kritikus film Masha Gessen sampai memuji film ini di artikelnya yang dimuat The New Yorker, 6 Maret 2018.


“Dalam 15 menit pertama, mungkin Ianucci menggambarkan suasana kehidupan yang paling akurat di bawah rezim teror Soviet,” ujar Gessen.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Kebun pertama tembakau Deli kini menjadi perkampungan di sekitar Jalan Platina, Medan.
“Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

“Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

Dianggap menggerakan massa melawan pemerintah kolonial, Kuwu Groeneveld menanggung hukuman tak ringan.
Jejak Raja dan Ratu Belgia di Indonesia

Jejak Raja dan Ratu Belgia di Indonesia

Dari Brussel ke Jalan Astrid di Kebun Raya Bogor. Raja dan Ratu Belgia dari berbagai masa punya cerita di Indonesia.
Riwayat Konglomerat Dasaad

Riwayat Konglomerat Dasaad

Jaringan bisnis Dasaad membentang di dalam dan luar negeri. Ia tercatat sebagai pengusaha Indonesia pertama yang membuka kantor cabang di Amerika Serikat.
Brigitte Bardot yang Kontroversial

Brigitte Bardot yang Kontroversial

Brigitte Bardot tak sekadar ikon perfilman yang dijuluki “Marylin Monroe-nya Prancis”. Ia juga “lokomotif sejarah perempuan”.
bottom of page