- 16 Okt 2025
- 5 menit membaca
Diperbarui: 23 Mei
SEJAK didera hernia nukleus pulposus alias syaraf terjepit setahun lalu, Sumaun Utomo banyak menghabiskan waktunya untuk berobat. Dua kali dalam seminggu, lelaki 92 tahun itu harus bolak-balik periksa ke dokter. Agar tak terlampau lama menunggu, dia yang ditemani asisten rumah tangga, harus berangkat pagi-pagi ke rumah sakit untuk mendapat nomor antrean awal. Syaraf terjepit membuat aktivitasnya terganggu. Untuk berjalan kaki, bekas anggota Lembaga Sejarah Partai Komunis Indonesia (PKI) itu, kini harus bertopang tongkat.
Namun, kerentaan fisik Sumaun tak berbanding lurus dengan daya ingatnya. Dalam usia selanjut itu dia masih sanggup menceritakan pengalaman hidupnya pada masa lalu. Memang tak semua nama dan peristiwa dapat dia ingat dengan baik, tapi informasi yang diberikannya relatif konsisten. Lelaki yang dilahirkan di Lamongan pada 18 Agustus 1923 itu jarang meralat keterangan yang disampaikan sebelumnya.
Sumaun satu-satunya anggota Lembaga Sejarah PKI yang diyakini masih hidup. Rekan-rekannya di lembaga itu sudah lama berpulang. Sebagian di antaranya bahkan telah meninggal dalam tragedi berdarah pasca peristiwa 30 September 1965. Dibanding unsur kelengkapan PKI yang lain, Lembaga Sejarah bisa dibilang kurang populer. Ia tak seperti Dewan Harian Politbiro atau Biro Agitasi dan Propaganda yang lebih mentereng. Literatur mengenainya juga terbatas. Dengan demikian, informasi dari Sumaun mengenai lembaga itu menjadi sangat penting.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















