top of page

Kisah Dewa dari Korea Utara

Menciptakan “agama” sendiri, Kim Il-sung diperlakukan sebagai manusia paripurna berjuluk “Jenderal Maha Tahu”.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Penghormatan rakyat Korea Utara kepada patung Kim Il-sung dan putranya Kim Jong-il di Museum Revolusi Korea. (vov5.vn).

2 Mei 2020
3 menit membaca

SENO Gumira Ajidarma mengisahkan suatu kejadian tak mengenakan saat dirinya berkunjung ke Korea Utara pada 2002. Sebagai tamu resmi pemerintah negera komunis itu, Seno yang seorang kritikus film sekaligus fotografer, suatu hari berkesempatan mengambil gambar patung Kim Il-sung, Bapak Pendiri Korea Utara.


Saat tengah asyik memotret bagian-bagian patung itu secara rinci dari jarak dekat, tetiba seorang petugas mendekatinya. Dengan ketus dia melarang Seno untuk mengambil gambar patung tersebut secara tidak utuh.


“Kalau memotret pemimpin kami, tolong jangan dipotong-potong!” katanya seperti dituturkan oleh Seno dalam bukunya Jejak Mata Pyongyang.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Pemilihan AM. “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado tak hanya menjadikannya walikota perempuan pertama pasca-dibubarkannya RIS. Pemilihannya juga menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
transparant.png
bottom of page