- 24 Mar 2017
- 3 menit membaca
Diperbarui: 24 Mar
KAMIS, 21 Maret 1946. Sebuah Dakota milik RAF (Angkatan Udara Kerajaan Inggris) melayang-layang di atas Kota Bandung. Alih-alih melemparkan bom, justru pesawat angkut tersebut menurunkan ribuan lembar kertas. Isinya: Para ekstrimis Indonesia harus mengosongkan Bandung selambat-lambatnya pada 24 Maret 1946, jam 24.00 dan mundur sejauh 11 km dari tanda kilometer nol.
Asikin Rachman sedang di wilayah Cicadas saat kertas-kertas itu berhamburan dari udara. Betapa terkejutnya pejuang dari Lasykar Hizboellah tersebut ketika membaca tulisan yang tertera di dalamnya. Giginya gemeretak, darahnya mendidih.
“Kami ini dianggap apa sama Inggris? Tanah, tanah kami sendiri. Negeri, negeri kami sendiri. Mengapa harus ikut perintah mereka?” ujar lelaki yang kini berusia 93 tahun itu.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












