top of page

KNIL Muslim dari Tulehu

Tak semua KNIL Ambon beragama Kristen. Yang muslim pun ada.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Pasukan KNIL di Cirebon. Banyak anggota KNIL berasal dari Ambon dan wilayah-wilayah lain di Maluku. (Geheugendelpher)

20 Agu 2024
2 menit membaca

Diperbarui: 8 Mar

WAKTU tentara Jepang memasuki Hindia Belanda pada 1942, Oemar Kotta belum lama menjadi prajurit dua infanteri di tentara kolonial Hindia Belanda alias Koninklijk Nederlandch Indische Leger (KNIL). Dia mendaftar sebagai sukarelawan pada 1941 dan diterima kemudian bertugas di Depot Batalyon Infanteri ke-3 di Gombong, Jawa Tengah. Tepat sehari setelah ulang tahunnya yang ke-22 tahun, 8 Maret 1942, Hindia Belanda menyerah tanpa syarat kepada tentara Jepang di Kalijati, Subang.


Lebih dari sebulan, putra pasangan Hasanuddin Kotta dan Fatma Malawat yang asal Tulehu itu menganggur. Namun, itu tak lama. Kartu tawanan perang atas nama dirinya menyebut Omar tertangkap sekitar 17 April 1942 di Jawa. Ketika dirinya ditangkap, istrinya berada di Surabaya.


Omar kemudian kemudian dikirim ke Sumatra. Seperti umumnya militer yang ditawan Jepang, Omar dipekerjakan di proyek-proyek. Dia baru dibebaskan pada 14 September 1945 di Pekanbaru.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page