top of page

Konsekuensi dari Kesimpulan Tim Peneliti Belanda

Konsekuensi historiografis dan politis dari kesimpulan riset sejarah kekerasan selama periode revolusi dari tim peneliti Belanda.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Pejuang Republik ditangkap dan digiring serdadu Belanda pada masa revolusi Indonesia. (ind45-50.nl).

18 Feb 2022
4 menit membaca

Diperbarui: 14 Agu

AKHIR tahun 2021 tim riset Belanda tentang sejarah kekerasan yang terjadi pada masa revolusi Indonesia telah menyelesaikan tugasnya. Tim yang beranggotakan para sejarawan profesional dari empat lembaga riset di Belanda itu menghasilkan 14 buku. Buku-buku itu baru saja dirilis dan minggu ini tim peneliti mengumumkan kesimpulan penelitian itu dalam sebuah siaran pers.


Penelitian yang mengundang kontroversi di dalam masyarakat dan akademisi di Belanda maupun di Indonesia ini menyimpulkan bahwa selama periode revolusi kemerdekaan, yang dalam perspektif Belanda disebut sebagai periode “Bersiap” itu, telah terjadi kekerasan masif yang dilakukan oleh militer Belanda terhadap rakyat sipil Indonesia. Di lain pihak kekerasan juga dialami oleh kelompok masyarakat Belanda khususnya Indo-Eropa, etnis Tionghoa, dan elite Indonesia yang dianggap pro-Belanda.


Sebenarnya tidak ada hal yang baru yang dihasilkan dari riset ini karena kesimpulan serupa sudah dikemukakan oleh para sejarawan yang telah melakukan penelitian tentang topik yang sama sebelumnya. Sekalipun demikian, kesimpulan tim Belanda ini memiliki implikasi yang berbeda karena penelitian ini merupakan state-sponsorship dan mengatasnamakan negara. Sementara itu penelitian-penelitian sebelumnya lebih bersifat individual.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page