Diperbarui: 6 Agu
BERSAMA rekan-rekannya sesama perempuan pejuang di masa revolusi, Lasmidjah Hardi mendirikan Yayasan Wanita Pejuang pada 24 Februari 1977. Selain Lasmidjah, anggotanya antara lain SK Trimurti, Sujatin Kartowidjono, Siti Djauhari Sudiro, Soekanti Soerjotjondro, Utami Soerjadharma, dan Amini Sutari Abdulgani. Yayasan ini mereka maksudkan sebagai wadah untuk mewariskan nilai-nilai perjuangan kepada generasi penerus. Langkah tersebut diwujudkan lewat upaya penghimpunan dan pembukuan kisah-kisah perjuangan para para wanita.
Yayasan ini megeluarkan lima jilid buku berjudul Sumbangsihku Bagi Ibu Pertiwi. Diungkapkan dalam prawicara Sumbangsihku Bagi Ibu Pertiwi I, ide pembuatan bukunya bermula dari obrolan dalam reuni Wanita Pejuang pada Mei 1981. Akhirnya dibuatlah lima jilid buku yang memuat 54 cerita para perempuan pejuang. Tokoh yang mengisahkan perjuangannya di buku tersebut diambil dari beragam latar belakang, daerah, budaya, agama, dan organisasi agar mencerminkan kebhinekaan Indonesia.
“Sejak bangkitnya pergerakan nasional, wanita merupakan bagian yang tak terpisahkan dari perjuangan untuk kemerdekaan tanah air,” kata Lasmidjah dalam prawicara Sumbangsihku Bagi Ibu Pertiwi IV. Ia juga mengajak para perempuan untuk menyadari hak-haknya yang sudah diperjuangkan di masa sebelumnya.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















