top of page

Lena Mokoginta Soekanto, Pendiri Bhayangkari

Meski pendiri Bhayangkari dan istri Kepala Kepolisian Negara, Lena Mokoginta Soekanto enggan menjadi ketua Bhayangkari. Ia tak ingin organisasi istri Polri dijalankan dengan watak feodalisme.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Hadidjah Lena Mokoginta Soekanto, pendiri Bhayangkari. (Repro Sumbangsihku Bagi Ibu Pertiwi).

4 Jul 2020
3 menit membaca

Diperbarui: 3 Mei

BEGITU mendengar Kongres Wanita Indonesia akan mengadakan pertemuan pada akhir Agustus 1949, Hadidjah Lena Mokoginta Soekanto, istri Kepala Kepolisian Negara Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo, langsung bersemangat untuk ikut bergabung.


Selain karena keinginannya bergabung dengan perjuangan perempuan, Lena menyadari selama masa perjuangan kemerdekaan, bantuan dari para istri polisi masih terpencar dan belum terlihat secara nyata.


Maka, Lena merencanakan pendirian organisasi agar para istri polisi bisa ikut turun dalam perjuangan kemerdekaan dengan pembentukan dapur umum dan membantu palang merah. Lena lantas mencarikan nama yang pas untuk organisasi barunya itu.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Di usianya yang masih muda, Semaoen memimpin dan menggerakkan serikat buruh. Dia memperjuangkan pekerja tertindas dengan melancarkan pemogokan, sampai diusir pemerintah kolonial.
bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
transparant.png
bottom of page