Diperbarui: 16 Sep
UDARA dingin yang menusuk tulang tak memadamkan keinginan kuat Letda (penerbang) Bertram Arthur James untuk meraih kebebasannya. Menjelang tengah malam, 24 Maret 1944, James bersama puluhan rekan sesama tawanan perang di Kamp Stalag Luft III di Sagan, Silesia (kini Żagań, Polandia) merangkak di terowongan bawah tanah yang lebarnya hanya 60 centimeter (cm).
“Musim dingin tahun itu sangat buruk. Itu bulan Maret terdingin selama 30 tahun dan orang-orang yang berjalan kaki akan sangat menemui kesulitan,” James berkisah.
Tetapi bukan perkara mudah bagi James dkk. bisa keluar dengan selamat. Tebalnya salju di atas tanah berpasir di sekitar kamp membuat bagian ujung terowongan sepanjang 102 meter itu amblas. Butuh sekira satu jam bagi rekan-rekan James di bagian depan untuk memperbaiki terowongan itu, termasuk pintu terowongan yang membeku.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















