Diperbarui: 14 Sep
KETENANGAN malam di Kamp Tawanan Perang Cowra, New South Wales, Australia, seketika pecah saat pukul 2 dini hari 5 Agustus 1944 terdengar teriakan lantang “Banzai!”. Kegaduhannya disusul bunyi terompet yang menggiring lebih dari 1.000 tawanan serdadu Jepang yang berusaha menembus tiga lapis kawat berduri.
Ketika itu mayoritas prajurit dan perwira Batalyon Garnisun ke-22 Angkatan Darat (AD) Australia sedang tertidur pulas. Hanya menyisakan beberapa gelintir prajurit yang piket jaga malam. Di antaranya Prajurit Dua (Prada) Benjamin Gower Hardy dan Prada Ralph Jones di salah satu pos penjagaan.
“Sekitar pukul dua dini hari, sejumlah tawanan perang Jepang berlarian menuju gerbang kamp. Lalu terdengar pula bunyi terompet militer Jepang. Massa tawanan yang meneriakkan ‘Banzai!’ merangsek ke sisi utara, barat, dan selatan menembus pagar kawat berduri dengan bantuan selimut,” tulis jurnalis perang cum sejarawan militer Gavin Long dalam The Final Campaigns.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















