top of page

Neraka di Ghetto Cideng

Jepang menyatakan Kamp Cideng sebagai ghetto “terlindungi”. Kenyataannya, hidup para interniran seperti di neraka.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Kawasan Jalan Cideng Barat saat ini (Randy Wirayudha/Historia.ID)

7 Des 2025
9 menit membaca

Diperbarui: 9 Des 2025

JALAN Cideng Barat, Jakarta Pusat riuh dengan kepadatan arus kendaraan meski matahari sudah di ubun-ubun. Barisan ruko juga rapat di kedua sisi jalan. Jika memasuki jalan-jalan kecil di antara Jalan Cideng Barat dan Jalan Cideng Timur, maka akan terlihat beberapa rumah era kolonial, di antaranya masih terawat baik. Mereka sudah dihimpit rumah-rumah ataupun toko-toko dengan nuansa modern.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
bg-gray.jpg
Di usianya yang masih muda, Semaoen memimpin dan menggerakkan serikat buruh. Dia memperjuangkan pekerja tertindas dengan melancarkan pemogokan, sampai diusir pemerintah kolonial.
bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
transparant.png
bottom of page