- 26 Agu 2024
- 6 menit membaca
Diperbarui: 13 Jul
NEGARA boneka Manchukuo di Manchuria ambruk seiring menyerahnya Tentara Kwantung kepada Tentara Merah Uni Soviet pada 19 Agustus 1945. Perang Soviet-Jepang (8 Agustus-2 September 1945) pun memasuki fase akhir. Nasib getir para tawanan perangnya lantas ditentukan Josef Stalin via sebuah dekrit pada 23 Agustus 1945.
Bentrokan militer Jepang dan Soviet sedianya sudah terjadi sejak insiden-insiden perbatasan Mongolia-Manchuria dalam Insiden Nomonhan/Pertempuran Khalkhin Gol (11 Mei-16 September 1939). Konflik dua kekuatan di timur itu baru mereda lewat perjanjian bilateral Pakta Netralitas Soviet-Jepang yang disepakati pada 13 April 1941. Namun perjanjian itu sama sekali tak menghasilkan nasib yang jelas pada ratusan prajurit Angkatan Darat (AD) ke-6 Tentara Kwantung yang ditawan Soviet.
Sekitar 500-600 serdadu Jepang dan Manchu ditawan. Tapi karena adanya doktrin militer (Jepang) yang melarang serdadunya menyerah, pihak Jepang mencatat mereka sebagai prajurit yang gugur demi menjaga kehormatan keluarga mereka.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















