top of page

Manusia Melawan Singa di GBK

Stadion Gelora Bung Karno pernah menjadi arena pertarungan manusia dengan singa bak gladiator di zaman Romawi. Namun, penonton malah kecewa.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Pertunjukan Bandot Lahardo Show yang mempertarungkan pegulat Lahardo dengan seekor singa, di Stadion Utama Senayan (kini GBK), 1 September 1968. (Sumber: Arsip Reuters courtesy @potretlawas.)

24 Jul 2025
3 menit membaca

STADION Gelora Bung Karno (GBK) bukan hanya tempat menghelat pertandingan sepakbola atau konser musik. Di masa lalu, saat masih bernama Stadion Utama Senayan, stadion kebanggaan Indonesia ini juga pernah bikin geger karena menjadi arena gladiator yang mempertarungkan manusia dengan singa. Duel semacam ini lazimnya terjadi di zaman kolosal Romawi. Ia menjadi pertarungan hidup-mati antara petarung-gladiator melawan binatang buas.


Begitu pertunjukan gladiator diadakan di Jakarta, masyarakat sangat antusias menyambutnya. Semula, hari pertarungan yang ditunggu-tunggu itu dijadwalkan 25 Agustus 1968, namun diundur kemudian menjadi 1 September 1968. Yang jelas, sejak jauh-jauh hari berbagai suratkabar terbitan ibukota sudah gembar-gembor memberitakan pertunjukan bertajuk “Bandot Lahardo Show” itu.


“Samson di abad ke-20. Manusia yang akan melawan binatang-binatang buas, yang terdiri dari harimau, singa, dan banteng itu, adalah seorang pemuda berbadan tegap bernama Bandot Lahardo,” lansir Duta Masjarakat, 21 Agustus 1968.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Di usianya yang masih muda, Semaoen memimpin dan menggerakkan serikat buruh. Dia memperjuangkan pekerja tertindas dengan melancarkan pemogokan, sampai diusir pemerintah kolonial.
bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
transparant.png
bottom of page