top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Membaca Karya-Karya Sontoloyo

Rezim Orde Baru mempengaruhi bagaimana para perupa berkarya. Tidak boleh politis.

20 Nov 2019

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Pengunjung pameran "Sontoloyo" yang berlangsung mulai 15 November hingga 30 November 2019 di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. (Fernando Randy/Historia).

Pada 1975, diadakan pameran lukisan dalam rangka pembukaan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) yang baru berdiri. Gubernur Ali Sadikin yang meninjau kesiapan pameran, tiba-tiba berhenti di depan sebuah lukisan karya Srihadi Soedarsono.


Lukisan Srihadi menampilkan sebuah air mancur yang dikelilingi gedung-gedung pencakar langit. Gedung-gedung itu juga dipenuhi tulisan Hitachi, Toshiba, Banzai, Toyota, Sony, Dai Nippon, hingga Bakero. Lukisan yang diberi judul “Air Mancar” dan dibuat pada tahun 1973 itu menampilkan wajah ibu kota yang semrawut.


Nampaknya Ali Sadikin geram melihat Jakarta dilukiskan penuh reklame perusahaan Jepang. Ia pun lantas mencoret-coret lukisan itu dengan tulisan, “Sontoloyo!!! Apa ini reklame barang2 Jepang.” Ia kemudian juga membubuhkan tanda tangannya. Lukisan itu akhirnya tidak jadi dipamerkan untuk menghindari kemarahan Presiden Soeharto yang akan membuka acara.


Pengunjung menikmati karya-karya dalam pameran "Sontoloyo". (Fernando Randy/Historia).
Pengunjung menikmati karya-karya dalam pameran "Sontoloyo". (Fernando Randy/Historia).

Kejadian itulah yang kemudian menginspirasi pameran Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) bertajuk "Sontoloyo" di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki (TIM). Pameran ini menampilkan sepilihan koleksi DKJ dari pelukis seperti Basuki Resobowo, Dede Eri Supria, Djojo Gozali, Hardi, Ipe Ma’aroef, Ipung Gozali, Mardian, Muryoto Hartoyo, Nashar, Oesman Effendi, Rudi Isbandi, Wahyu Widjaja, dan Zaini.


Pameran yang berlangsung mulai 15 hingga 30 November 2019 dikuratori oleh Bambang Bujono dan Lisistrata Lusandiana. Kedua kurator memilih karya-karya yang berkaitan dengan permasalahan urbanitas yang dibuat pada masa Orde Baru terutama pada dekade 1970-an hingga 1980-an.


Pembacaan ulang atas karya-karya mereka ternyata memperlihatkan relasi antara seniman, kota, dan penguasa. Beberapa karya sketsa tahun-tahun itu tidak menunjukan gambaran kota yang realistis. Sementara itu garis-garis dan coretan abstrak nampaknya lebih menonjol.


Pameran ini hendak membaca ulang perkembangan seni rupa masa Orde Baru. (Fernando Randy/Historia).
Pameran ini hendak membaca ulang perkembangan seni rupa masa Orde Baru. (Fernando Randy/Historia).

“Semacam ada sesuatu yang mereka hindari. Yang dari bentuk, itu adalah menghindari bentuk yang realistis. Tentu saja ada pengaruh perkembangan seni rupa itu sendiri. Tetapi sebaliknya perkembangan seni rupa itu juga dipengaruhi oleh suasana lain-lain. Suasana politik, ekonomi dan sebagainya. Mengapa mereka menjadi asbtrak,” kata Bambang Bujono.


Menurut Bambang, para perupa masa itu tidak ingin karyanya dihubung-hubungkan dengan sesuatu yang bisa diverbalkan. Hal ini berkaitan erat dengan peristiwa 1965.


Bambang Bujono dan Lisistrata Lusandiana kedua kurator pameran Sontoloyo yang di gelar di TIM Jakarta. (Fernando Randy/Historia).
Bambang Bujono dan Lisistrata Lusandiana kedua kurator pameran Sontoloyo yang di gelar di TIM Jakarta. (Fernando Randy/Historia).

Pada masa sebelum tahun 1965, kebudayaan Indonesia termasuk senirupa didominasi oleh Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Lekra dengan "politik sebagai panglima"-nya memiliki pengaruh kuat dalam perkembangan seni rupa kala itu.


Pasca tragedi 1965, Lekra dilarang bersama PKI dan semua yang dianggap berkaitan dengan komunis. Masa-masa itu kemudian membawa "kebebasan" bagi para seniman yang kala itu merasa tidak bebas karena setiap karya harus politis.


Pameran ini juga mempertanyakan ulang bagaimana urbanitas dibicarakan. (Fernando Randy/Historia).
Pameran ini juga mempertanyakan ulang bagaimana urbanitas dibicarakan. (Fernando Randy/Historia).

“Kebebasan kreatif itu dirayakan luar biasa, tetapi di bawah sadar sebetulnya ada satu ketidakbebasan, yang waktu itu belum terasa. Yaitu ketidakbebasan untuk, misalnya, mengkritik pemerintah. Kebebasan untuk berbicara seperti ketika tahun 65,” ujar Bambang.


Bambang menambahkan, hal itu membuat para sketcher masa itu memiliki kecenderungan untuk mengingkari bentuk yang ada di depan mata. “Ada semacam escape, pelarian. Maka (karya) Pak Zaini misalnya, menjadi seperti abstrak,” ungkapnya.


Sementara itu, karya-karya "sontoloyo" seperti milik Srihadi seringkali mendapat represi secara langsung. Salah satu contohnya adalah karya cetak saring seniman Hardi, eksponen Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia (GSRBI) berjudul Suhardi Presiden R.I Th. 2001 (1979). Ketika dipamerkan dalam pameran pelukis muda se-Indonesia, karya itu diminta diturunkan oleh pihak keamanan dan menyebabkan Hardi ditahan dua hari di Laksusda Jakarta.


Dalam pameran ini, karya-karya "sontoloyo" itu disandingkan dengan karya-karya pensketsa urban masa kini sebagai upaya melihat kembali perkembangan seni rupa Indonesia beserta segala masalah kreativitasnya.


Lisistrata Lusandiana menambahkan, pemilihan karya kali ini juga didasari pada ajakan untuk mempertanyakan ulang bagaimana urbanitas dibicarakan serta apakah prosesnya telah berjalan demokratis atau belum.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Yang Tersisa dari Warisan Salahuddin di Pelosok Prancis

Yang Tersisa dari Warisan Salahuddin di Pelosok Prancis

Alkisah Masjid Buzancy di Ardennes, Prancis yang dibangun atas permintaan Sultan Salahuddin. Hancur semasa Revolusi Prancis. Kini beralih fungsi jadi sekolah.
Bukan Band Manis, God Bless Band Idealis

Bukan Band Manis, God Bless Band Idealis

God Bless tak mau sembarangan bikin album. Laris bukan tujuan mereka menelurkan album.
Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Kebun pertama tembakau Deli kini menjadi perkampungan di sekitar Jalan Platina, Medan.
Akhir Perlawanan Tuan Rondahaim Terhadap Belanda

Akhir Perlawanan Tuan Rondahaim Terhadap Belanda

Tuan Rondahaim melawan Belanda di Simalungun hingga akhir hayatnya. Dia tidak pernah menyerah. Penyakit rajalah yang menghentikan perlawanannya.
“Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

“Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

Dianggap menggerakan massa melawan pemerintah kolonial, Kuwu Groeneveld menanggung hukuman tak ringan.
bottom of page