top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Mengagumi Jiwa Seni Sukarno

Bung Karno bukan hanya sosok pemimpin. Dia juga seniman. Tak heran seniman pun mengaguminya.

10 Jul 2017

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Presiden Sukarno, Mieke Wijaya, dan Kartika Sari Dewi.

  • 10 Jul 2017
  • 2 menit membaca

SUDAH setengah abad lebih berkiprah, kariernya belum juga redup. Hingga kini, setidaknya sudah 80 judul film dan 30 judul sinetron telah dia bintangi.


Mieke Wijaya, berusia 76 tahun, mulai dikenal ketika membintangi film drama musikal Tiga Dara (1956). Kariernya kian bersinar ketika meraih gelar aktris terbaik pada Pekan Apresiasi (Festival) Film Nasional berkat aktingnya dalam film Gadis Kerudung Putih (1967). Dia juga berhasil meraih dua Piala Citra: sebagai Aktris Pembantu Terbaik dalam film Ranjang Pengantin (1974) dan Pemeran Utama Wanita Terbaik lewat film Kembang Semusim (1980).


Di layar kaca, perannya sebagai Bu Broto dalam sinetron Losmen (1987) mencuri hati masyarakat. Sinetron Antara Jakarta-Perth (1996) mengantarkannya menjadi Aktris Pemeran Pembantu Terbaik dalam ajang Asian Television Award.


Kepada Historia, selain soal film, Mieke berbagai cerita mengenai perkenalannya dengan Bung Karno, proklamasi dan presiden pertama Indonesia, sosok yang dikaguminya.


Kenapa mengaguminya?

Saya kebetulan kenal Bapak; sebagai bapak bangsa, tegas terhadap penjajah. Saya juga kagum Bapak itu merakyat sekali. Jiwa seninya kan juga tinggi; suka lukisan dan lain-lain.


Bagaimana bisa bertemu Bung Karno?

Bapak kan suka mengundang artis-artis kalau ada acara. Di Istana Negara, Istana Bogor. Saya juga sering diundang. Ya sebagai rakyat saja. Saya bukan hanya kenal baik dengan Bapak. Saya juga kenal baik dengan Ibu Fatmawati, Mas Guntur, dan anak-anaknya yang lain.


Apa sih yang paling diingat dari Bung Karno?

Beliau ramah sekali.


Ada pengalaman menarik dengan Bung Karno?

Bapak itu suka menari. Tari lenso. Saya pasti diajak lenso sama Bapak. Terus kan kalau acara-acara begitu banyak duta dari mancanegara, saya suka dituntun sama beliau sambil bilang ke tamu: “Beautiful lady…” (tertawa). Terus kalau acara duduk, saya datang terlambat, saya pasti disuruh duduk di kursi belakangnya. Tapi yang paling senang ya lenso itu. Saya sih ketemu Bapak cuma kalau ada acara.


Bung Karno sudah tiada, bagaimana cara Anda mengenang beliau?

Yang jelas berdoa selalu. Kita terus menjalankan apa yang sudah diperjuangkan. Saya sih ingin berbuat baik kepada sesama, sama seperti beliau.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Menyibak Mitos Haji Djamhari

Menyibak Mitos Haji Djamhari

Penelitian membuktikan bahwa sosok Haji Djamhari sebagai penemu kretek benar-benar ada dan bukan tokoh fiksi.
Masa Pahit Kesultanan Langkat

Masa Pahit Kesultanan Langkat

Kesultanan paling kaya di masa Hindia Belanda luluh lantak digilas revolusi sosial. Padahal, sang sultan telah menyatakan sumpah setia pada Republik Indonesia.
Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam

Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam

Rumahsakit Bethesda Yogyakarta yang masih berdiri hingga kini merupakan buah "kasih" dr. Belanda bernama JG Scheurer.
Supriyadi Masuk Hutan dan Menghilang

Supriyadi Masuk Hutan dan Menghilang

Setelah memimpin pemberontakan PETA di Blitar, Supriyadi masuk hutan dan menghilang. Diduga telah dibunuh Jepang, tetapi dirahasiakan sehingga makamnya tidak ditemukan.
Donny God Bless Kritik Penguasa Generasi Ayahnya

Donny God Bless Kritik Penguasa Generasi Ayahnya

Basis God Bless Donny Fattah pandai menulis lagu dan peduli pada kehidupan bangsanya. Lagunya cukup kritis di era Orde Baru.
bottom of page