top of page

Mengapa Baret Marinir Berwarna Ungu?

Bagi Korps Marinir TNI AL, ungu adalah warna yang sarat makna dan keramat.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Korps Marinir TNI AL. (imgrum.org).

14 Okt 2017
2 menit membaca

STEVEN masih ingat kejadian pagi itu. Kala rusuh melanda Jakarta pada 14 Mei 1998, ia terjebak di tengah massa yang sedang beringas di kawasan Jalan Hayam Wuruk. Saat lelaki Tionghoa itu dilanda kebingungan, tetiba sekelompok orang mengepungnya lalu melontarinya dengan berbagai pukulan.


“Untunglah dalam kondisi kritis itu, dua tentara berbaret ungu menembakan senjatanya ke udara hingga membuat massa kabur. Mereka lalu mengamankan saya,” kenang pedagang berusia 45 tahun tersebut.


Dua tentara berbaret ungu itu tak lain adalah anggota Korps Marinir, salah satu kesatuan elite TNI AL. Lahir dari rahim revolusi Indonesia pada 15 November 1945, Korps Marinir dalam perkembangannya selalu terlibat dalam berbagai operasi tempur dan operasi kemanusiaan yang diadakan oleh TNI AL.


“Seperti kesatuan elite lain, sejarah kami adalah suatu sejarah tentang pengabdian tanpa batas untuk negara ini…” ujar Krisna Rubowo, pensiunan marinir berpangkat kolonel.


Namun tahukah anda, mengapa salah satu kesatuan elite tertua di Indonesia itu memilih ungu sebagai warna baretnya?


Menurut buku Korps Komando AL dari Tahun ke Tahun, dipilihnya warna ungu karena dua hal. Pertama, ungu adalah salah satu warna selendang Nyai Roro Kidul, yang dalam mitologi Jawa merupakan penguasa samudera Indonesia. Selendang ungu milik Sang Ratu Pantai Selatan itu dipercaya sangat ampuh dalam memberikan perlindungan dan pengamanan.


Kedua, ungu baret Korps Marinir juga diilhami dari warna bunga Bougenville yang telah gugur sebelum layu. “Ini juga melambangkan pengabdian seorang prajurit Korps Marinir dalam mempertahankan dan memelihara keutuhan negara,” tulis karya yang dibuat oleh Bagian Sejarah KKO-AL (nama lama Korps Marinir) itu.


Sejarah juga mencatat, warna ungu dipakai kali pertama oleh Korps Marinir (saat masih bernama KKO AL) berupa pita sebagai kode pengaman pada 1958. Ketika itu pasukan Korps Marinir terlibat dalam Operasi 17 Agustus, suatu aksi militer menumpas pembangkangan PRRI (Pemerintah Revolusiener Republik Indonesia) di Sumatera Barat. Baru pada 1961, Korps Marinir mengabadikan warna ungu bagi baretnya, tepat saat Batalyon I KKO AL terlibat dalam Operasi Alugoro di Aceh.


Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
It was not without reason that Ahmad Subardjo was nicknamed “The Guarantor of Independence” in Indonesia. However, he was absent when Sukarno proclaimed independence.
bg-gray.jpg
Saat memimpin Jakarta, Sudiro dihadapkan pada kondisi berantakan. Putar otak demi pembangunan kota, termasuk cari dana di luar lungsuran dari pusat. Sering pula gagasannya ditolak pemerintah pusat.
bg-gray.jpg
Ahmad Subardjo was born in Karawang to a family of Acehnese and Javanese nobility. The beloved son of a civil service police officer, he moved to Batavia to continue his education at a Dutch school.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah became the first female minister in Indonesian history. She handled everything from diplomacy and labor issues to makeup and lipstick.
Piala Dunia Wanita bentuk pengakuan FIFA terhadap perjuangan puluhan tahun.
Piala Dunia Wanita bentuk pengakuan FIFA terhadap perjuangan puluhan tahun.
Beragam cara diambil untuk mengakali atmosfer stadion tanpa “pemain keduabelas”. Dari mural kontroversial hingga boneka seks.
Beragam cara diambil untuk mengakali atmosfer stadion tanpa “pemain keduabelas”. Dari mural kontroversial hingga boneka seks.
 Sejak dini, Sandiaga terobsesi beragam olahraga. Menurun dari orangtuanya
Sejak dini, Sandiaga terobsesi beragam olahraga. Menurun dari orangtuanya
Tuan rumah terhindar dari malu di Indonesia Open 2019 berkat kegemilangan ganda putra. Sektor yang dulunya dipandang sebelah mata.
Tuan rumah terhindar dari malu di Indonesia Open 2019 berkat kegemilangan ganda putra. Sektor yang dulunya dipandang sebelah mata.
Tragedi Kanjuruhan jadi salah satu petaka terparah dalam catatan sejarah.
Tragedi Kanjuruhan jadi salah satu petaka terparah dalam catatan sejarah.
Meski namanya masih asing di telinga, kerja keras bangsa Viking ini membuahkan prestasi dalam sepakbola.
Meski namanya masih asing di telinga, kerja keras bangsa Viking ini membuahkan prestasi dalam sepakbola.
transparant.png
bottom of page