Diperbarui: 13 Okt
DALAM novel Max Havelaar (1860), Multatuli, nama pena Eduard Douwes Dekker, menggambarkan bagaimana komoditas kopi dan aneka hasil bumi menyimpan kegetiran praktik tanam paksa di masa kolonial. Sejarah menyakitkan itu didekonstruksi dan dieksplorasi sejumlah seniman seni rupa lewat karya-karya mereka di Pameran “The Book That Killed Colonialism”.
Pameran yang dibuka Dirjen Kebudayaan RI Hilmar Farid pada Kamis (5/10/2023) petang itu merupakan bagian dari Festival “Road to Max Havelaar” yang digelar di Bentara Budaya Jakarta dari 5-9 Oktober 2023. Pamerannya menyajikan sekira 20 karya lukisan, patung, dan instalasi dengan sejarah kopi dan kolonialisme sebagai benang merahnya.
“Kita mengajak teman-teman seniman untuk merayakan Max Havelaar. Menjadi awareness juga buat teman-teman seniman bahwa dari buku Max Havelaar ini juga menjadi inspirasi buat dieksplor. Kita batasi tematiknya itu, di mana menurut Pramoedya (Ananta Toer), buku ini berhasil membunuh kolonialisme,” kata ketua panitia pameran, Prawoto Indarto, kepada Historia, Kamis (5/10/2023).
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















