- Randy Wirayudha

- 5 jam yang lalu
- 4 menit membaca
ADA yang tak biasa dalam gelaran Piala Afrika 2025 di Maroko yang berlangsung 21 Desember 2025–18 Januari 2026. Setiap tim Kongo bermain, di tengah-tengah euforia dan tabuhan genderang suporter di tribun stadion, berdiri dengan tenang dan tak bergerak hampir 90 menit dengan mengangkat tangan. Ya, “Patrice Lumumba” hadir menyemangati dan memberi spirit kepada timnas Kongo di lapangan.
Tentu ia bukan sosok asli Bapak Pendiri Republik Demokratik Kongo itu. Ia dikenal para suporter Kongo sebagai Lumumba Vae. Nama aslinya Michel Nkuka Mboladinga. Pria berusia 49 tahun itu sudah melakukan pose Lumumba sejak 2013 meski baru viral belakangan pada Piala Afrika 2025.
Lumumba Vae acap hadir dengan gaya rambut khas 1960-an dan kacamata browline atau kadang dijuluki kacamata aktivis HAM Malcolm X. Ia hadir mengenakan kemeja kuning, jas biru muda, dan celana merah khas warna bendera Kongo. Lumumba Vae berdiri di atas sebuah pedestal untuk bisa berdiri lebih tinggi di antara kerumunan penonton dengan mengangkat tangan kanannya khas pose patung Patrice Lumumba di ibukota Kinshasa.
“Ia [Lumumba] adalah orang yang memberikan kami kebebasan untuk mengekspresikan diri kami. Ia mengorbankan jiwanya untuk kami, untuk memberikan kami kemerdekaan. Ia pahlawan bagi kami. Lumumba adalah spirit dan teladan buat kami. Saya berdiri dalam diam untuk memberi kekuatan kepada tim, untuk memberi energi kepada para pemain,” ujar Lumumba Vae kepada Associated Press, Rabu (7/1/2026).
Sayangnya, Lumumba Vae akhirnya menangis dan menurunkan tangannya tatkala Kongo disingkirkan Aljazair di babak 16 besar pada 6 Januari 2026. Kendati pihak penyelenggara Piala Afrika 2025 menawarkan Lumumba Vae untuk tetap berada di Maroko sampai turnamen berakhir dengan kompensasi uang per pertandingan, ia memilih pulang ke negerinya di Kongo.

Sukarno dan Patrice Lumumba
Patrice Émery Lumumba lahir pada 2 Juli 1925 di Katakokombe, Kasai, saat Kongo dijajah Belgia. Meski dibesarkan sebagai seorang Katolik yang taat, ia tumbuh di sekolah-sekolah Protestan.
Di usia muda, Lumumba melalui buku-buku berkenalan dengan banyak tokoh pembaru Eropa seperti Jean-Jacques Rousseau, François-Marie Arouet alias Voltaire, hingga para penyair dan sastrawan semisal Jean-Baptiste Poquelin alias Molière dan Victor Hugo. Tak heran kemudian ia sering membuat puisi-puisi bertemakan anti-kolonialisme sembari bekerja serabutan jadi juru tulis kantor pos hingga sales minuman bir.
Lumumba kemudian turut mendirikan organisasi yang menjadi partai beraliran sosialis, Mouvement National Congolais (MNC) pada 1958. Sejarawan Belgia, David van Reybrouck menyebut, aktivisme Lumumba memerdekakan negerinya terpapar inspirasi dan kaitan langsung dengan Bandung Spirit atau Semangat Bandung yang lahir dari Konferensi Asia-Afrika (KAA) 1955.
Reybrouck, dalam public lecture berjudul “Sukarno and the Making of the New World” di Jakarta pada 22 Oktober 2025 mengungkapkan, gagasan gerakan dekolonisasi di Afrika mulanya dibawa pemimpin Mesir, Gamal Abdel Nasser yang hadir di KAA. Gagasan itu ditularkan kepada pejuang kemerdekaan Ghana, Kwame Nkrumah. Ia pula yang menginisiasi All-African People’s Conference (AAPC) di Accra, Ghana pada Desember 1958 dengan merujuk pada manifesto Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Semangat Bandung.
“Nkrumah mengorganisir konferensi itu pada 1958 untuk para aspiring activists dari [negeri-negeri] Sub-Sahara. Salah satu yang turut datang adalah pemuda dari Kongo bernama Patrice Lumumba. Jadi, ini semua dilihat sebagai pilar-pilar bagi lahirnya gerakan Pan-Afrika. Ketika Lumumba pulang ke Kongo, ia ikut menyebarkan Semangat Bandung. Beberapa bulan kemudian kebangkitan dan kemerdekaan terpicu di Kinshasa. Jadi, ada direct connection di situ, bahwa Semangat Bandung sangat menular,” terang Reybrouck.
Kongo, negara terluas kedua di Benua Afrika setelah Aljazair, akhirnya meraih kemerdekaannya dari Belgia pada 30 Juni 1960. Lewat hasil pemilu pertamanya, Lumumba terpilih menjadi perdana menteri merangkap menteri pertahanan nasional di usia 34 tahun.
Nahas, pergolakan politik dan konflik terjadi di Kongo yang baru merdeka. Dalam Krisis Kongo (1960-1962) pemerintahan Lumumba dikudeta dan diburu pemerintahan separatis Katanga pimpinan Moise Tshombe yang didukung pasukan bayaran Gendarmerie Belgia. Sudah sejak lama Lumumba jadi target Belgia, Inggris, dan Amerika Serikat.
“Amerika dan Belgia sempat merencanakan pembunuhan, beberapa negara Barat juga meyakini Lumumba adalah sosok berbahaya bagi perusahaan neokolonial mereka di Afrika. Pada 19 September 1960 Presiden Amerika [Dwight Eisenhower] dan Menteri Luar Negeri Inggris [Alec Douglas] membahas Krisis Kongo. Sang presiden menyatakan keinginannya ‘bahwa Lumumba akan jatuh ke sungai penuh dengan buaya’,” tulis sosiolog Belgia, Ludo De Witte dalam The Assassination of Lumumba.
Hanya enam bulan memerintah, Lumumba ditangkap pasukan Kolonel Joseph Mobutu pada 1 Desember 1960. Lumumba dibawa dan ditahan di Katanga. Setelah disiksa, Lumumba dan dua rekannya dieksekusi regu tembak di bawah sebuah pohon pada 17 Januari 1961 malam.

Hingga kini, jasad Lumumba tak diketahui rimbanya. Kelak, pada Juni 2022, Pemerintah Belgia mengembalikan sebuah gigi emas kepada keluarganya, sekaligus menyampaikan pengakuan dan permohonan maaf atas keterlibatan Belgia dalam pembunuhan Lumumba.
Kabar pembunuhan Lumumba sampai ke telinga Presiden Sukarno. Pemerintahan Sukarno mengabadikan namanya jadi nama jalan di Jakarta, Surabaya, dan Padangsidempuan, Sumatra Utara.
“Pada 1961, Sukarno menamakan sebuah jalan di Jakarta Pusat setelah pembunuhan pemimpin Kongo Patrice Lumumba sebagai solidaritasnya kepada rakyat Kongo. [Namun] pada 1970-an, seiring adanya protes teroganisir terhadap nama jalan yang dianggap nama pemimpin kiri, pemerintahan anti-komunis Soeharto mengganti nama jalannya,” tulis Christophe Dorigné-Thompson dalam Indonesia’s Engagement with Africa.
Pada medio 1977, Jalan Patrice Lumumba di Kemayoran, Jakarta Pusat diganti menjadi Jalan Angkasa. Begitu pula di Surabaya kembali diganti menjadi Jalan Raya Darmo. Mengutip begandring.com, Jalan Patrice Lumumba bergeser ke Jalan Ngagel, tetapi tidak lama diganti kembali menjadi Jalan Ngagel. Yang tersisa kini hanya gang kecil yaitu Kampung Lumumba Dalam dan Lumumba Buntu, keduanya masuk Kelurahan Ngagel, sedangkan Lumumba Timur masuk kelurahan Ngagel Rejo, Kecamatan Wonokromo. Sementara itu, Jalan Patrice Lumumba di Padangsidempuan tetap bertahan.*













Komentar