top of page

Menulis Hingga Senja

Dijuluki kamus berjalan pers Indonesia. Berwasiat kepada pewarta muda agar tak telat datang untuk janji wawancara.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Soebagijo IN dan buku-buku karyanya. (Hendaru Tri Hanggoro/Historia).

17 Sep 2013
3 menit membaca

Soebagijo IN dan buku-buku karyanya. (Hendaru Tri Hanggoro/Historia).


SOEBAGIJO Ilham Notodidjojo (Soebagijo IN), wartawan senior, wafat hari ini (17/9) sekira pukul 4 subuh di rumahnya, di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten. Semasa hidup, dia punya komitmen kuat terhadap kerja jurnalistik. Sampai masa tuanya, dia telah menulis puluhan buku dan ratusan artikel dengan menggunakan mesin tik. Hampir seluruhnya membahas sejarah pers dan biografi tokoh. Orang pun menjulukinya ‘kamus berjalan pers Indonesia’.


Soebagijo lahir di Blitar, 5 Juli 1924. Berasal dari keluarga pendidik. Ayahnya mengarahkan Soebagijo menjadi guru. Maka dia harus menempuh pendidikan keguruan sejak remaja. Tapi minatnya berkata lain: menulis. Terlebih lagi dia seorang pembaca yang tekun.


“Betapa menyenangkannya menulis untuk dibaca orang lain,” katanya kepada Historia, Januari 2012 lalu di rumahnya. Untuk melatih kecakapan menulis, dia mengirim tulisan ke Pandji Poestaka dan Indonesia Merdeka. 


Menginjak usia dewasa, Soebagijo kian yakin dengan minatnya. Dia memutuskan masuk kantor berita Antara Pusat Yogyakarta pada Juli 1946. Saat itu dia hanya lulusan Sekolah Guru Tinggi (SGT).



“Apabila sekarang ini untuk bisa diterima menjadi wartawan Antara, orang minimum harus mengantongi ijazah D-III, masih pula harus menjalani aneka ragam testing, untuk kemudian bila lolos segala macam ujian tadi, masih harus disekolahkan lagi barang setengah tahun, maka pada zaman saya tidak demikianlah halnya,” tulis Soebagijo dalam “Menjadi Wartawan Antara Setengah Abad yang Lampau,” termuat di Mengabdi Kepada Republik yang terbit pada 1986


Di Antara, Seobagijo jadi wartawan paling muda. Tapi dia sudah beroleh tugas berat : meliput pertemuan-pertemuan Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Dia membayar tuntas kepercayaan itu. Bekerja dari pagi hingga sore dan wara-wiri dengan berjalan kaki atau naik sepeda. “Saya tak pernah datang terlambat dalam pertemuan atau wawancara khusus,” kata Soebagijo IN.


Komitmen Soebagijo berbuah. Penyebar Semangat di Surabaya menariknya jadi wakil pemimpin redaksi pada 1949. Saat bersamaan, dia menyelesaikan buku biografi pertamanya tentang ibunda Presiden Soekarno. Judulnya Pengukir Soekarno.



Soebagijo kembali ke Antara pada 1957. Kali ini dia bertugas di biro Jakarta. Tahun ini pula dia beroleh pengalaman berkesan. Djamaludin Adinegoro, wartawan senior, berpesan kepadanya dalam perjalanan keliling Amerika, “jangan Anda menjadi wartawan thok; Anda juga harus menjadi pengarang.”


Maka ketika pensiun dari Antara pada 1981, karier Soebagijo tak redup. Dia masih menulis di berbagai suratkabar dan majalah. Menulis biografi, menerjemahkan, menyadur aneka ragam cerita, dan menyunting buku jadi pengisi hari-hari pensiunnya.


Pada 1998, buku Soebagijo PWI di Arena Masa, memantik perdebatan. Musababnya, tak ada nama Rosihan Anwar dan Mochtar Lubis. Kritik meluncur deras. Terhadap kritik itu, Soebagijo menjawab, “Yang tercantum di sana adalah wartawan Indonesia yang sudah meninggal dan yang belum berusia 60 tahun. Nah, pada waktu itu mereka belum berumur 60,” dikutip Kompas 8 Desember 2003.


Dari semua karyanya, dia paling bangga dengan Jagad Wartawan Indonesia (1981). Bertutur kisah 111 tokoh pers Indonesia, suka duka mewarnai penulisannya. Dia menyurati banyak tokoh pers. Ada yang dijawab. Lebih banyak lagi yang tanpa jawaban. “Tapi ini kan pekerjaan wartawan. Menyenangkan,” katanya sambil menunjukkan bukunya ke Historia.  



Saat Historia menemuinya kali terakhir itu, tubuhnya sudah ringkih. Langkahnya tertatih-tatih. Pendengarannya pun terganggu. Tapi dia masih getol bercerita. Terutama tentang tokoh-tokoh yang dia tulis dalam biografi, seperti SK Trimurti.


Soebagijo tak bisa lepas dari pekerjaannya. Mesin tik di ruang tengah rumahnya jadi saksi. “Saya masih menulis untuk suratkabar daerah berbahasa Jawa.” Dan kepada pewarta muda dia berpesan, “jangan pernah datang terlambat saat wawancara.”

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Kasus perdagangan anak di daerah transmigrasi Rawa Makmur, Kalimantan Timur ungkap kemiskinan ekstrem yang menjerat kehidupan para transmigran. Praktik korupsi aparat disinyalir biang keladinya.
bg-gray.jpg
Panglima tempur yang memadamkan gejolak di berbagai daerah. Menggagas banyak hal penting setelah aktif lagi di Angkatan Darat.
bg-gray.jpg
Sebagai gubernur militer, Gatot Soebroto berperan dalam penumpasan pemberontakan PKI di Madiun. Dia disebut turut bertanggung jawab atas eksekusi mati Amir Sjarifoeddin cs.
bg-gray.jpg
Gatot Soebroto menjadi kepala polisi wilayah Banyumas pada awal kemerdekaan. Dekat dengan anak buah, Gatot berhasil memimpin pasukan dalam pertempuran Ambarawa.
Tradisi lama untuk menyambut musim semi agar mendapatkan kemakmuran dan rezeki di tahun baru.
Tradisi lama untuk menyambut musim semi agar mendapatkan kemakmuran dan rezeki di tahun baru.
Muasal Copa América beriringan dengan sejarah revolusi Argentina. Sudah tiga dekade gagal bersatu.
Muasal Copa América beriringan dengan sejarah revolusi Argentina. Sudah tiga dekade gagal bersatu.
Sejak awal diselenggarakan, pesta rakyat tahunan ini tetap mempertahankan fondasi utamanya.
Sejak awal diselenggarakan, pesta rakyat tahunan ini tetap mempertahankan fondasi utamanya.
Cita-cita revolusi kemerdekaan Indonesia tak untuk memperlebar jurang orang kaya dan miskin dan mengabaikan hak-hak minoritas.
Cita-cita revolusi kemerdekaan Indonesia tak untuk memperlebar jurang orang kaya dan miskin dan mengabaikan hak-hak minoritas.
Di balik pameran karya seni ada proses panjang dalam mempersiapkannya, mulai dari memilih karya, mengurus peminjaman koleksi, hingga menjamin keamanannya.
Di balik pameran karya seni ada proses panjang dalam mempersiapkannya, mulai dari memilih karya, mengurus peminjaman koleksi, hingga menjamin keamanannya.
Willie, si singa berambut ala personel The Beatles, sang pelopor tradisi maskot.
Willie, si singa berambut ala personel The Beatles, sang pelopor tradisi maskot.
transparant.png
bottom of page