top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Mudahnya Kopral Dukun Mempecundangi PRRI

Kisah seorang prajurit Banteng Raiders yang ikut melawan PRRI di Sumatra Barat. Prestasinya mengesankan

12 Apr 2023

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

KSAD Mayjen AH Nasution sedang menginspeksi pasukan dalam operasi penumpasan gerakan PRRI bersandi "17 Agustus" (Perpusnas RI)

Dari Jawa Tengah, pasukan Banteng Raider (BR) dikirim jauh-jauh ke Sumatra untuk melawan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). BR yang berasal dari Komando Tentara dan Teritorium Diponegoro, Jawa Tengah –hingga akhir 1959, panglima Diponegoro adalah Kolonel Soeharto– punya reputasi yang mumpuni. Sebab, lawan yang dihadapi bukan “kaleng-kaleng”.


“Ketika PRRI mengangkat senjata melawan pemerintah pusat, maka dukungan serta bantuan pihak Amerika Serikat dan sekutunya diwujudkan dalam bentuk yang lebih nyata. Bantuan itu antara lain terlihat dari suplai senjata,” catat Gusti Asnan dalam Memikir ulang Regionalisme: Sumatera Barat tahun 1950-an.


Selain senjata, Audrey Kahin dalam Dari Pemberontakan ke Integrasi: Sumatra Barat dan Politik Indonesia, 1926-1998 menyebut, pelatihan pun diberikan kepada PRRI.



“Kalau tentara rezim Sukarno berani menginjakkan kakinya di bumi PRRI, maka sejengkal tanah pun akan kami pertahankan sampai tetes darah yang penghabisan,” seru PRRI seperti dicatat Sersan Mayor Bandel dalam Madjalah Angkatan Darat, 6 Juni 1958. Cerita Sersan Mayor Bandel ini tentu berdasarkan sudut pandang Angkatan Darat sebagai lawan PRRI.


Tentu saja PRRI sedang merasa kuat kala itu. Jadi mereka berusaha menggetarkan dulu lawannya yang akan mendarat.


Toh, gertakan itu semata bentuk psywar. Ketika pasukan pusat, termasuk BR, mendarat di Pekanbaru kemudian, perlawanan yang mereka terima tak semenakutkan gertakan lawan.


“Kami hanya melepaskan beberapa butir peluru, kemudian kami menyusir daratan Riau dan setiap berpapasan dengan satuan-satuan pemberontak (PRRI), hanya penembak Bren dari regu yang terdepan saja yang memuntahkan beberapa pelurunya, dan satu-satuan pemberontak tersebut sudah mengangkat tangannya tinggi-tinggi,” kata Sersan Mayor Bandel.

Pasukan PRRI tak punya disiplin tempur yang baik. Mereka dengan mudah menyerah.



Akhirnya pasukan BR, yang punya pengalaman melawan pemberontak Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) di Jawa Tengah itu, jadi tidak merasa bertempur. Tugas tempurnya seperti melakukan perjalanan ke daerah yang tak dikenal saja. Pasukan BR itu kemudian tiba di Sawahlunto.


Sebuah regu BR punya seorang kopral senior yang berpengalaman dalam pertempuran. Kopral ini dijuluki Kopral Dukun. Suatu kali Kopral Dukun dan beberapa prajurit bawahannya hendak menyergap sebuah pos senapan mesin Watermantel.


Kopral Dukun bergerak maju mendekati posisi senapan mesin itu dengan hati-hati. Setelah berjarak 4 meter dengan pos senapan mesin, Kopral Dukun melemparkan pisaunya ke salah satu pelayan senapan. Pelayan senapan mesin yang lain lalu dilempari batu sebesar nanas hingga pingsan. Penembak senapan mesin PRRI itu lalu melihat ke ke arah Kopral Dukun.


“Aku kopral Banteng Raiders! Kamu mau apa?” kata Kopral Dukun.


“Saya akan bertobat, Pak!” kata si penembak.


Setelahnya, anggota PRRI lain di tempat itu pun menyerah. Senjata-senjata mereka tentu saja disita tentara pemerintah yang datang dari Jawa.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Kebun pertama tembakau Deli kini menjadi perkampungan di sekitar Jalan Platina, Medan.
“Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

“Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

Dianggap menggerakan massa melawan pemerintah kolonial, Kuwu Groeneveld menanggung hukuman tak ringan.
Jejak Raja dan Ratu Belgia di Indonesia

Jejak Raja dan Ratu Belgia di Indonesia

Dari Brussel ke Jalan Astrid di Kebun Raya Bogor. Raja dan Ratu Belgia dari berbagai masa punya cerita di Indonesia.
Riwayat Konglomerat Dasaad

Riwayat Konglomerat Dasaad

Jaringan bisnis Dasaad membentang di dalam dan luar negeri. Ia tercatat sebagai pengusaha Indonesia pertama yang membuka kantor cabang di Amerika Serikat.
Brigitte Bardot yang Kontroversial

Brigitte Bardot yang Kontroversial

Brigitte Bardot tak sekadar ikon perfilman yang dijuluki “Marylin Monroe-nya Prancis”. Ia juga “lokomotif sejarah perempuan”.
bottom of page