- 29 Mei 2025
- 2 menit membaca
Diperbarui: 26 Jun
TATKALA Gunung Krakatau masih ada dan belum meletus, tersebutlah seorang pangeran bernama Singa Branta. Ia hidup di sekitar Gunung Rajabasa di Lampung Selatan yang –beribukota Kalianda– salah satu sisinya menghadap Selat Sunda tempat Gunung Krakatau.
Java Bode, 23 Agustus 1856, menyebut Pangeran Singa Branta sebagai kepala marga di daerah Rajabasa. Daerah itu terkenal dengan gunung vulkaniknya, Gunung Rajabasa, yang punya kandungan belerang dan di kaki gunungnya dipenuhi rumah-rumah. Bersama Radin Inten II, yang disebut-sebut sumber Belanda sebagai kepala marga Negara Ratu, Pangeran Singa Branta dicap pihak Belanda sebagai “penghasut pemberontakan.” Sejak 1851, mereka sudah dianggap biang kerusuhan di Lampung.
Sikap Singa Branta dan pengikutnya membuat daerah Rajabasa didatangi pasukan Batalyon Infanteri ke-1 tentara kolonial Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL). Singa Branta dan pengikutnya bertahan di Benteng Bendulu yang terletak di lembah. Namun, Singa Branta akhirnya tertangkap lalu dibuang. Pembuangan orang sepertinya sangat umum di Hindia Belanda. Lebih dari 25 tahun setelah tertangkapnya Singa Branta, Gunung Krakatau meletus. Air lautnya mengancam daerah bawah Gunung Rajabasa.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

















