top of page

Orang yang Mengusulkan Nama Gelora Bung Karno

Nama Gelora Bung Karno diusulkan oleh menteri agama.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Menteri Agama Saifuddin Zuhri dan istri berfoto bersama Presiden Sukarno setelah upacara pelantikan pada 2 Maret 1962. Foto: repro Berangkat dari Pesantren.

  • 13 Jun 2017
  • 1 menit membaca

Suatu pagi sambil minum kopi, beberapa orang menteri berkumpul di serambi belakang Istana Merdeka. Di antara mereka hadir Menteri Olahraga Maladi, Menteri Dalam Negeri dr. Soemarno Sosroatmodjo, Menteri Agama Saifuddin Zuhri, dan beberapa pejabat sipil dan militer. Mereka tengah membicarakan nama untuk kompleks olahraga yang terletak di Senayan untuk penyelenggaraan Asian Games IV. Mereka sepakat memberi nama Pusat Olahraga Bung Karno, namun Saifuddin tidak setuju.


“Nama itu tidak cocok dengan sifat dan tujuan olahraga,” kata Saifuddin dalam otobiografinya, Berangkat dari Pesantren. Semua mata tertuju kepadanya.


“Mengapa?” tanya Sukarno.


“Kata ‘pusat’ pada kalimat ‘Pusat Olahraga’ itu kedengarannya kok statis tidak dinamis seperti tujuan kita menggerakkan olahraga,” jawab Saifuddin.


“Usulkan nama gantinya kalau begitu,” kata Sukarno.


“Nama ‘Gelanggang Olahraga’ lebih cocok dan lebih dinamis,” kata Saifuddin menjelaskan. “Nama Gelanggang Olahraga Bung Karno kalau disingkat menjadi Gelora Bung Karno. Kan mencerminkan dinamika sesuai dengan tujuan olahraga.”


“Wah, itu nama hebat. Saya setuju!” Sukarno menjabat tangan Saifuddin dengan air muka cerah. Sukarno memerintahkan Maladi untuk mengganti nama Pusat Olahraga Bung Karno menjadi Gelora Bung Karno. Pada 21 Juli 1962, Sukarno meresmikan Gelora Bung Karno yang berkapasitas 110.000 orang.


Dalam rangka desukarnoisasi, penguasa Orde Baru mengubah nama Gelora Bung Karno menjadi Stadion Utama Senayan. Pada 2001, Presiden Abdurrahman Wahid mengembalikan nama Gelora Bung Karno.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Jenderal Soedirman mendukung Persatuan Perjuangan yang digagas Tan Malaka. Namun, dia kemudian meninggalkan kawan sehaluan setelah terjadi peristiwa kudeta 3 Juli 1946.
bg-gray.jpg
Setelah Sutan Sjahrir dibebaskan, para pengikut Tan Malaka menyodorkan konsepsi untuk disetujui Sukarno. Hatta menyadari sedang terjadi kudeta.
bg-gray.jpg
Setelah diculik pengikut Tan Malaka, Sutan Sjahrir bikin perhitungan dengan penangkapan berantai. Adam Malik protes, Sayuti Melik pasrah digelandang ke bui.
bg-gray.jpg
Perdana Menteri Sutan Sjahrir diculik pengikut Tan Malaka, Presiden Sukarno minta Sjahrir dikembalikan.
Kekayaan Edward Colston diperoleh dari jual-beli budak. Fakta ini sejak lama memancing perdebatan layak-tidaknya kedermawanan seorang pedagang budak diabadikan dalam sebuah monumen kota.
Kekayaan Edward Colston diperoleh dari jual-beli budak. Fakta ini sejak lama memancing perdebatan layak-tidaknya kedermawanan seorang pedagang budak diabadikan dalam sebuah monumen kota.
Kekaguman Salman Aristo Terhadap Hatta
Kekaguman Salman Aristo Terhadap Hatta
Lagu-lagunya abadi. Dari soal cinta sampai protes antiperang.
Lagu-lagunya abadi. Dari soal cinta sampai protes antiperang.
Sempat terputus, Donald Trump kembali menyambung tradisi bukber di Gedung Putih yang bermula dua abad silam.
Sempat terputus, Donald Trump kembali menyambung tradisi bukber di Gedung Putih yang bermula dua abad silam.
Sebuah kelompok astronom, yang dipimpin orang Indonesia, menemukan planet baru yang terbentuk secara tak lazim.
Sebuah kelompok astronom, yang dipimpin orang Indonesia, menemukan planet baru yang terbentuk secara tak lazim.
Indonesia berlimpah warisan budaya. Pengembangannya tergantung sikap masyarakat dan kebijakan pemerintah.
Indonesia berlimpah warisan budaya. Pengembangannya tergantung sikap masyarakat dan kebijakan pemerintah.
transparant.png
bottom of page