top of page

Pakaian pada Masa Jawa Kuno

Pembuatan dan penjualan pakaian pada masa Jawa Kuno. Pekerjaan terkait itu dikenai pajak.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Litografi pedagang kain keliling karya Josias Cornelis Rappard, sekitar tahun 1881-1889. (Wikimedia Commons).

6 Agu 2021
3 menit membaca

Diperbarui: 24 Mei

PADA 992, raja Jawa mengirim utusan ke Cina. Utusan itu membawa persembahan berupa kain sutra bersulam hiasan bunga, sutra bersulam benang emas, dan sutra beraneka warna lainnya. Penduduk Jawa memelihara ulat sutra. Mereka menenun kain sutra yang halus, sutra kuning, dan kain dari katun.


Demikianlah berita Sejarah Dinasti Sung (960–1279) mencatat produksi kain di Jawa. Informasi mengenai pembuatan dan penjualan pakaian juga tercatat dalam prasasti.


Sebagian besar prasasti mencatat pakaian atau kain merupakan hadiah (pasek pasek) yang diberikan kepada pejabat yang menghadiri upacara penetapan daerah perdikan (sima). Jenis pakaiannya disebut wdihan.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page