top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Panglima Wanita Perang Jawa

Perempuan panglima pemberani dan cerdas di Perang Jawa. Andalan Pangeran Diponegoro di berbagai palagan.

Oleh :
2 Agu 2018

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Nyi Ageng Serang. (Repro Perempuan-Perempuan Perkasa di Jawa Abad XVIII-XIX).

TIGA hari setelah Perang Jawa berlangsung, Nyi Ageng Serang menerima utusan dari Yogyakarta yang membawa surat dari Pangeran Diponegoro. Dalam surat itu tertulis bahwa Diponegoro meminta doa dan bantuan perempuan berjuluk Lonjong Mimis dan Diraja Meta (dentuman senjata) itu untuk menghadapi perang tersebut.


Nyi Ageng Serang dikenal sebagai perempuan kuat, tangguh, dan pintar. Sejak belia dia gemar berlatih ilmu bela diri. Dia dihormati karena kecakapannya dan memiliki kesaktian tinggat tinggi yang konon diperolehnya ketika bersemedi di gua di sekitar pantai selatan Jawa. Banyak orang mendatanginya untuk berguru.


Karier Nyi Ageng dalam militer kerajaan dimulai sejak berusia 16 tahun. Kala itu dia masuk Korps Nyai di Keraton Yogyakarta. Di tempat inilah dia mendapat gelar Nyi Ageng, tulis Peter Carey dalam Perempuan-Perempuan Perkasa di Jawa Abad XVIII-XIX. Sementara, kata Serang dia dapat karena menikahi Pangeran Serang I. Nama kecil Nyi Ageng Serang sendiri adalah Raden Ajeng Kustiah Retno Edi.


Begitu menerima surat dari Pangeran Diponegoro, Nyi Ageng bersama pasukannya, Semut Ireng, segera bergerak ke sektor Serang-Demak pada masa-masa awal perang. Dalam setiap pertempuran, dia selalu berkuda putih dan menggunakan seragam serta melilitkan selendang pusaka lambang keperwiraannya di tombaknya. Nyi Ageng Serang, seperti ditulis Kayatun dalam skripsinya, “Nyi Ageng Serang dalam Perang Diponegoro”, dikenal sebagai seorang taktikus dan pengatur strategi perang yang andal. Pangeran Diponegoro sering meminta bantuannya.


Pasukan Semut Ireng terdiri dari 500 prajurit dengan posisi yang diatur selalu siap siaga. Di Perang Jawa, Semut Ireng yang selalu memakai panji Merah-Putih yang disebut Panji Gula Kelapa mula-mula menghancurkan pos Belanda di Gambringan kemudian melanjutkan penyerangan ke Purwodadi.


Dalam tugas merebut bagian timur Jawa Tengah, Nyi Ageng yang duduk sebagai penasehat dan bergerak bersama anaknya, Pangeran Serang II, memerintahkan pasukannya untuk melakukan penyamaran dengan daun limbu. Kamuflase daun limbu dilakukan dengan cara setiap prajurit membawa daun limbu untuk digunakan sebagai pelindung atau payung.


Setelah menyerang pos-pos Belanda dengan taktik “Serangan Hanoman”, yakni menyerang diam-diam dengan pasukan kecil, para prajurit lantas bersembunyi di ladang, semak-semak, atau sawah dengan berlindung di balik daun limbu yang mereka bawa. Taktik ini berhasil mengelabui Belanda. Para tentara pemburu Belanda mengira prajurit Nyi Ageng Serang hilang begitu saja di tengah sawah hijau.


Kecerdikan dan pengalaman Nyi Ageng membuat nasihatnya tentang strategi perang selalu didengarkan Pangeran Diponegoro. Dia akhirnya dipercaya menjadi penasihat umum dalam Perang Jawa. Posisi pentingnya selama Perang Jawa membuat Nyi Ageng Serang sangat dihormati pengikut Diponegoro.


Pada pertengahan 1826, pejabat Indo-Belanda Paulus Daniel Portier tertangkap dan menjadi tawanan pasukan Diponegoro. Dia meminta Pangeran Serang II untuk mempertemukannya dengan Nyi Ageng yang kala itu sedang bersemedi di sekitar pantai selatan guna bernegosiasi. Permintaan itu tak dikabulkan. Belanda tak pernah berhasil menangkap Nyi Ageng Serang.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Yang Tersisa dari Warisan Salahuddin di Pelosok Prancis

Yang Tersisa dari Warisan Salahuddin di Pelosok Prancis

Alkisah Masjid Buzancy di Ardennes, Prancis yang dibangun atas permintaan Sultan Salahuddin. Hancur semasa Revolusi Prancis. Kini beralih fungsi jadi sekolah.
Bukan Band Manis, God Bless Band Idealis

Bukan Band Manis, God Bless Band Idealis

God Bless tak mau sembarangan bikin album. Laris bukan tujuan mereka menelurkan album.
Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Kebun pertama tembakau Deli kini menjadi perkampungan di sekitar Jalan Platina, Medan.
Akhir Perlawanan Tuan Rondahaim Terhadap Belanda

Akhir Perlawanan Tuan Rondahaim Terhadap Belanda

Tuan Rondahaim melawan Belanda di Simalungun hingga akhir hayatnya. Dia tidak pernah menyerah. Penyakit rajalah yang menghentikan perlawanannya.
“Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

“Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

Dianggap menggerakan massa melawan pemerintah kolonial, Kuwu Groeneveld menanggung hukuman tak ringan.
bottom of page