top of page

Panglima Wanita Perang Jawa

Perempuan panglima pemberani dan cerdas di Perang Jawa. Andalan Pangeran Diponegoro di berbagai palagan.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 2 Agu 2018
  • 2 menit membaca

TIGA hari setelah Perang Jawa berlangsung, Nyi Ageng Serang menerima utusan dari Yogyakarta yang membawa surat dari Pangeran Diponegoro. Dalam surat itu tertulis bahwa Diponegoro meminta doa dan bantuan perempuan berjuluk Lonjong Mimis dan Diraja Meta (dentuman senjata) itu untuk menghadapi perang tersebut.


Nyi Ageng Serang dikenal sebagai perempuan kuat, tangguh, dan pintar. Sejak belia dia gemar berlatih ilmu bela diri. Dia dihormati karena kecakapannya dan memiliki kesaktian tinggat tinggi yang konon diperolehnya ketika bersemedi di gua di sekitar pantai selatan Jawa. Banyak orang mendatanginya untuk berguru.


Karier Nyi Ageng dalam militer kerajaan dimulai sejak berusia 16 tahun. Kala itu dia masuk Korps Nyai di Keraton Yogyakarta. Di tempat inilah dia mendapat gelar Nyi Ageng, tulis Peter Carey dalam Perempuan-Perempuan Perkasa di Jawa Abad XVIII-XIX. Sementara, kata Serang dia dapat karena menikahi Pangeran Serang I. Nama kecil Nyi Ageng Serang sendiri adalah Raden Ajeng Kustiah Retno Edi.


Begitu menerima surat dari Pangeran Diponegoro, Nyi Ageng bersama pasukannya, Semut Ireng, segera bergerak ke sektor Serang-Demak pada masa-masa awal perang. Dalam setiap pertempuran, dia selalu berkuda putih dan menggunakan seragam serta melilitkan selendang pusaka lambang keperwiraannya di tombaknya. Nyi Ageng Serang, seperti ditulis Kayatun dalam skripsinya, “Nyi Ageng Serang dalam Perang Diponegoro”, dikenal sebagai seorang taktikus dan pengatur strategi perang yang andal. Pangeran Diponegoro sering meminta bantuannya.


Pasukan Semut Ireng terdiri dari 500 prajurit dengan posisi yang diatur selalu siap siaga. Di Perang Jawa, Semut Ireng yang selalu memakai panji Merah-Putih yang disebut Panji Gula Kelapa mula-mula menghancurkan pos Belanda di Gambringan kemudian melanjutkan penyerangan ke Purwodadi.


Dalam tugas merebut bagian timur Jawa Tengah, Nyi Ageng yang duduk sebagai penasehat dan bergerak bersama anaknya, Pangeran Serang II, memerintahkan pasukannya untuk melakukan penyamaran dengan daun limbu. Kamuflase daun limbu dilakukan dengan cara setiap prajurit membawa daun limbu untuk digunakan sebagai pelindung atau payung.


Setelah menyerang pos-pos Belanda dengan taktik “Serangan Hanoman”, yakni menyerang diam-diam dengan pasukan kecil, para prajurit lantas bersembunyi di ladang, semak-semak, atau sawah dengan berlindung di balik daun limbu yang mereka bawa. Taktik ini berhasil mengelabui Belanda. Para tentara pemburu Belanda mengira prajurit Nyi Ageng Serang hilang begitu saja di tengah sawah hijau.


Kecerdikan dan pengalaman Nyi Ageng membuat nasihatnya tentang strategi perang selalu didengarkan Pangeran Diponegoro. Dia akhirnya dipercaya menjadi penasihat umum dalam Perang Jawa. Posisi pentingnya selama Perang Jawa membuat Nyi Ageng Serang sangat dihormati pengikut Diponegoro.


Pada pertengahan 1826, pejabat Indo-Belanda Paulus Daniel Portier tertangkap dan menjadi tawanan pasukan Diponegoro. Dia meminta Pangeran Serang II untuk mempertemukannya dengan Nyi Ageng yang kala itu sedang bersemedi di sekitar pantai selatan guna bernegosiasi. Permintaan itu tak dikabulkan. Belanda tak pernah berhasil menangkap Nyi Ageng Serang.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Sederet jabatan diemban Sudiro sejak Indonesia merdeka. Di Dewan Konstituante, Sudiro sudah menyuarakan isu HAM.
bg-gray.jpg
Sejak awal menjadi pejabat, Sudiro ditempatkan di daerah konflik. Dimulai dari Surakarta, berakhir di Sulawesi yang penuh pergolakan.
bg-gray.jpg
Sudiro meninggalkan hidup enak di Palembang karena dipanggil Sukarno ke Jakarta. Dia memimpin Barisan Pelopor dan berperan dalam Proklamasi kemerdekaan.
bg-gray.jpg
Sudiro berjuang melalui pendidikan dan partai politik, membuatnya masuk daftar hitam. Pengikut Sukarno ini dipenjara hingga sempat tak bisa berbicara.
Berbisnis sejak jadi tentara, M.F. Lichtendahl kerap tersangkut tindakan ilegal.
Berbisnis sejak jadi tentara, M.F. Lichtendahl kerap tersangkut tindakan ilegal.
Ryamizard Ryacudu sempat menjadi calon tunggal Panglima TNI, namun gagal karena terganjal faktor politik. Setelah pensiun, Ryamizard diangkat menjadi menteri pertahanan.
Ryamizard Ryacudu sempat menjadi calon tunggal Panglima TNI, namun gagal karena terganjal faktor politik. Setelah pensiun, Ryamizard diangkat menjadi menteri pertahanan.
Gajah putih simbol kerajaan di Thailand. Hewan suci dan langka ini dipercaya pembawa keberuntungan, sehingga tidak boleh dikonsumsi dan dipekerjakan. Gajah putih dapat menghancurkan lawan.
Gajah putih simbol kerajaan di Thailand. Hewan suci dan langka ini dipercaya pembawa keberuntungan, sehingga tidak boleh dikonsumsi dan dipekerjakan. Gajah putih dapat menghancurkan lawan.
Kala sidak ke Tanjung Priok, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengingatkan untuk mencintai rupiah. Dahulu di pengujung Orde Baru gerakan cinta rupiah didengungkan Tutut Soeharto.
Kala sidak ke Tanjung Priok, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengingatkan untuk mencintai rupiah. Dahulu di pengujung Orde Baru gerakan cinta rupiah didengungkan Tutut Soeharto.
Kisah kapten yang marah kepada komandannya. Satu telinga komandannya dipotongnya.
Kisah kapten yang marah kepada komandannya. Satu telinga komandannya dipotongnya.
Meredupnya prestise majalah sastra dan bertumbuhnya komunitas sastra daerah. Di era digital, setiap orang bisa menerbitkan karyanya sendiri.
Meredupnya prestise majalah sastra dan bertumbuhnya komunitas sastra daerah. Di era digital, setiap orang bisa menerbitkan karyanya sendiri.
transparant.png
bottom of page