top of page

Partai Tanpa Sopir

Partai NU berebut anggota dengan Masyumi. Merekrut orang yang memiliki ketrampilan politik dan administrasi yang disebut sebagai “orang-orang sewaan”.

loading_historia_white.gif
transparant.png

KH Abdul Wahab Chasbullah, pendiri NU yang menjadi penggerak keluarnya NU dari Masyumi dan mendirikan Partai NU. (Repro Berangkat dari Pesantren).

31 Okt 2025
4 menit membaca

Diperbarui: 31 Jan

SUATU ketika, Rais Am Majelis Syuriah NU Wahab Chasbullah ditanya Isa Anshari, tokoh Masyumi, tentang kesiapan kader-kader NU yang akan duduk di dalam Partai NU. Wahab menjawab dengan pedas: “Kalau saya akan membeli mobil baru, dealer mobil itu tidak akan bertanya, ‘Apa tuan bisa memegang kemudi?’. Pertanyaan serupa itu tidak perlu, sebab seandainya saya tidak bisa mengemudi mobil, saya bisa memasang iklan ‘Dicari Sopir’. Pasti nanti akan datang pelamar-pelamar sopir antre di muka rumah saya.”


Obrolan itu terjadi di meja makan kafetaria Parlemen pada 1952. Wahab kelihatannya sedang bercanda. Tapi sesungguhnya tidak. “Wahab Chasbullah menjadi motor keluarnya NU dari Masyumi. Dia ingin NU mengekspresikan aspirasi dan kepentingan politik lewat posisi politik formal,” kata sejarawan Greg Fealy kepada Historia.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Di usianya yang masih muda, Semaoen memimpin dan menggerakkan serikat buruh. Dia memperjuangkan pekerja tertindas dengan melancarkan pemogokan, sampai diusir pemerintah kolonial.
bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
transparant.png
bottom of page