- Hendri F. Isnaeni
- 31 Okt 2025
- 4 menit membaca
Diperbarui: 11 jam yang lalu
SUATU ketika, Rais Am Majelis Syuriah NU Wahab Chasbullah ditanya Isa Anshari, tokoh Masyumi, tentang kesiapan kader-kader NU yang akan duduk di dalam Partai NU. Wahab menjawab dengan pedas: “Kalau saya akan membeli mobil baru, dealer mobil itu tidak akan bertanya, ‘Apa tuan bisa memegang kemudi?’. Pertanyaan serupa itu tidak perlu, sebab seandainya saya tidak bisa mengemudi mobil, saya bisa memasang iklan ‘Dicari Sopir’. Pasti nanti akan datang pelamar-pelamar sopir antre di muka rumah saya.”
Obrolan itu terjadi di meja makan kafetaria Parlemen pada 1952. Wahab kelihatannya sedang bercanda. Tapi sesungguhnya tidak. “Wahab Chasbullah menjadi motor keluarnya NU dari Masyumi. Dia ingin NU mengekspresikan aspirasi dan kepentingan politik lewat posisi politik formal,” kata sejarawan Greg Fealy kepada Historia.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












