- Hendri F. Isnaeni
- 29 Okt 2025
- 6 menit membaca
Diperbarui: 31 Jan
MOHAMMAD Saleh, walikota Yogyakarta yang juga tokoh Masyumi (dari Muhammadiyah), bikin perkara. Dalam Kongres Masyumi di Yogyakarta pada Desember 1949, dia menyindir para kiai. “Politik adalah luas. Politik ini saudara-saudara, tidak bisa dibicarakan sambil memegang tasbih, jangan dikira scope-nya politik ini hanya di sekeliling pondok dan pesantren saja. Dia luas menyebar ke seluruh dunia,” kata Saleh.
Terang saja orang-orang Nahdlatul Ulama tak terima. Mereka protes keras dan menuntut Saleh mencabut perkataannya. Saleh bergeming. Sekitar 30 orang NU pun meninggalkan ruang kongres.
Dalam kongres, menurut sebagian kalangan NU, ada di antara peserta yang tak memperlihatkan rasa hormat kepada ulama. Peserta ini menganggap lulusan sekolah Belanda lebih superior ketimbang lulusan sekolah agama.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












