- 5 Apr 2024
- 4 menit membaca
Diperbarui: 13 Feb
MADIUN, 18 September 1948, dianggap sebagai peristiwa kelam bagi Masyumi. Banyak anggota Masyumi, dari guru hingga kiai, menjadi korban. Sehingga, Masyumi mengusulkan 18 September sebagai Hari Berkabung Nasional. Sejak itu, kebencian Masyumi terhadap Partai Komunis Indonesia (PKI) tak tertahankan lagi.
“Sementara kukuh membenci komunis, Masyumi cenderung pro-Amerika, dan hubungan dekat antara diplomat-diplomat Amerika dengan para pemimpin Masyumi, terutama Sukiman, telah banyak dicatat di media massa,” tulis Ann Swift dalam The Road to Madiun: The Indonesian Communist Uprising of 1948.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.















