top of page

Pasukan Jelata Ki Ageng Suryomentaram

Selain dikenal dengan ajaran ilmu bahagia, Ki Ageng Suryomentaram juga terlibat perang gerilya melawan agresi Belanda.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Potret Ki Ageng Suryomentaram tak lama setelah menanggalkan gelar pangeran dan berpenampilan seperti rakyat jelata. (Repro Falsafah Ilmu Bahagia).

  • 31 Okt 2022
  • 2 menit membaca

MESKI dikenal sebagai seorang spiritualis yang mengajarkan ilmu bahagia yang bersifat personal, Ki Ageng Suryomentaram tak lepas dari kehidupan politik di Hindia Belanda. Sejak 1930, ketika ajarannya mulai ramai dibicarakan, ia telah dicurigai oleh polisi rahasia Belanda, Politieke Inlichtingen Dienst (PID).


“Betapa tidak akan curiga? Seorang pangeran yang turun. Yang pada dasarnya menaruh benci terhadap penjajahan. Bertempat tinggal di sebuah desa terpencil. Menyiarkan ajarah yang militan. Dikerumuni oleh ribuan murid, jauh dan dekat!” tulis majalah Minggu Pagi, 11 Februari 1951.


Belanda curiga bahwa kelak Ki Ageng Suryomentaram menyiarkan ajaran “ratu adil”. Satu istilah yang dikhawatirkan Belanda muncul kembali seperti pada masa Perang Jawa yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro.


Ki Ageng Suryomentaram baru benar-benar terlibat politik pada masa pendudukan Jepang, ketika ia mengeluarkan wejangan “Jimat Perang”. Satu ajaran mengenai berani mati turut dalam perang bersama Jepang.



Ki Ageng Suryomentaram dengan “Jimat Perang”-nya, disebut anaknya Grangsang Suryomentaram, berjasa dalam pembentukan tentara sukarela Pembela Tanah Air (PETA). Namun, klaim ini masih simpang siur karena ada klaim lain dari Gatot Mangkupraja sebagai penggagas PETA.


Marcel Bonneff dalam “Ki Ageng Suryomentaram, Javanese Prince and Philosopher (1892-1962)” yang termuat dalam Archipel No. 57, April 1995, menyebut versi Grangsang masih bisa diperdebatkan, namun peran Ki Ageng Suryomentaram dalam perjuangan kemerdekaan tampak jelas.


“Mengenai hal ini tidak diragukan lagi, kesiapannya untuk mengangkat senjata selama periode 1947–1949 sebagai pimpinan Pasukan Rakyat Jelata untuk menghadapi tentara Belanda di dekat Yogya sudah dikenal luas,” tulis Bonneff.


Pasca kemerdekaan, Ki Ageng Suryomentaram memang terlibat dalam gerakan melawan agresi Belanda. Ia memimpin pasukan gerilya yang dinamakan Pasukan Rakyat Jelata versi Bonneffatau Pasukan Jelata versi Grangsang. Nama pasukan ini tampaknya cocok dengan persona Ki Ageng Suryomentaram yang jelata.



Dalam “Riwayat Hidup Ki Ageng Suryomentaram” yang termuat dalam Falsafah Hidup Bahagia,Grangsang menyebut pasukan ini bermarkas di Wonosegoro, wilayah yang rawan pertempuran antara Republik dan Belanda di Kabupaten Boyolali.


Namun, tak banyak catatan mengenai sepak terjang Pasukan Jelata. Setelah ibukota Yogyakarta diduduki pasukan Belanda, Ki Ageng Suryomentaram dan keluarganya mengungsi ke daerah Gunung Kidul.


“Di tempat pengungsian ini Ki Ageng masih selalu berhubungan dengan tantara gerilya, dan masih memimpin pasukannya yang bermarkas di Wonosegoro,” tulis Grangsang.


Pada masa ini, setiap malam Jumat, Ki Ageng Suryomentaram mengunjungi pemakaman raja-raja Jawa di Imogiri. Ia duduk di bangsal Suwargan dikelilingi oleh tentara-tentara gerilya dan masyarakat sipil. Mereka mendengarkan wejangannya mengenai kondisi bangsa Indonesia.



“Ki Ageng mengatakan bahwa kelemahan bangsa Indonesia disebabkan karena gampang dipecah belah, gampang diadu domba, dan suka mengejar semat, drajat, kramat (harta, tahta, kehormatan) sehingga gampang untuk melakukan korupsi, kolusi, dan nepotisme, asal bisa mendapatkan semat, drajat, kramat,” tulis Grangsang.


Selain pernah memimpin Pasukan Jelata, Ki Ageng Suryomentaram juga mengeluarkan ceramah-ceramah seperti “Pembangunan Djiwa Warga Negeri”, “Djiwa Persatuan”, “Djiwa Buruh”, “Tata Negara”, “Raos Pantjasila”, hingga “Pandangan Keadaan Dunia”.


Pada 1957, Bung Karno mengundang Ki Ageng Suryomentam ke Istana Merdeka untuk dimintai pandangan mengenai berbagai permasalahan negara. Seperti biasa, Ki Ageng Suryomentam datang hanya memakai celana hitam, kaos, dan batik parang rusak barong yang dikalungkan di leher. Ia tetap menjadi jelata meski bertemu dengan seorang presiden.


Kisah selengkapnya Ki Ageng Suryomentaram baca di Historia Premium: Pangeran Yang Bahagia.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Anak muda putus sekolah dan menganggur menjadi problem di banyak daerah di Indonesia. Di Jombang, sebuah kota kecil di Jawa Timur, mereka diberikan keterampilan praktis dan praktik lapangan lalu dikirim ke Lampung dalam program Transmigrasi Pramuka.
bg-gray.jpg
The United States’ hydrogen bomb tests in the Eniwetok Atoll in the Pacific alarmed a member of the Indonesian House of Representatives, who urged the government to mobilize opposition on the international stage.
bg-gray.jpg
Jenderal Soedirman mendukung Persatuan Perjuangan yang digagas Tan Malaka. Namun, dia kemudian meninggalkan kawan sehaluan setelah terjadi peristiwa kudeta 3 Juli 1946.
bg-gray.jpg
Setelah Sutan Sjahrir dibebaskan, para pengikut Tan Malaka menyodorkan konsepsi untuk disetujui Sukarno. Hatta menyadari sedang terjadi kudeta.
A deep and balanced understanding about the events in 1959-1969 is required to achieve reconciliation.
A deep and balanced understanding about the events in 1959-1969 is required to achieve reconciliation.
Tiada yang mustahil dalam sepakbola, termasuk ketika berpuasa. Toh, Rasulullah Saw. bersabda, “berpuasalah, niscaya kalian akan sehat.”
Tiada yang mustahil dalam sepakbola, termasuk ketika berpuasa. Toh, Rasulullah Saw. bersabda, “berpuasalah, niscaya kalian akan sehat.”
 Separuh hidupnya untuk dunia peran. Dua kali memerankan biopik legenda kulit hitam.
Separuh hidupnya untuk dunia peran. Dua kali memerankan biopik legenda kulit hitam.
Mengenang sang juru taktik dari Austria. Alfred Riedl si galak yang akan terus diingat dalam sejarah sepakbola Indonesia.
Mengenang sang juru taktik dari Austria. Alfred Riedl si galak yang akan terus diingat dalam sejarah sepakbola Indonesia.
Salad kaktus di Timur Tengah hingga gado-gado di Hindia Timur membuktikan makanan ini digemari siapapun.
Salad kaktus di Timur Tengah hingga gado-gado di Hindia Timur membuktikan makanan ini digemari siapapun.
Sepasang penari di depan pengantin mengantar ke pelaminan. Bermula dari tugas suci, sekarang menjadi penggembira.
Sepasang penari di depan pengantin mengantar ke pelaminan. Bermula dari tugas suci, sekarang menjadi penggembira.
transparant.png
bottom of page