top of page

Pembantaian dan Penjarahan di Bali Selatan

Tak hanya berasal dari Puri Denpasar pasca-Puputan Badung, koleksi benda rampasan yang direpatriasi tahun ini juga berasal dari sejumlah puri di Tabanan.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Monumen Puputan Badung di Denpasar, Bali. (Randy Wirayudha/Historia.ID).

24 Sep 2024
5 menit membaca

Diperbarui: 18 Jan

SEBANYAK 288 benda cagar budaya Nusantara yang berada di Belanda resmi dikembalikan ke Indonesia. Lebih dari 200 di antaranya merupakan benda jarahan semasa Puputan Badung dan Tabanan seiring ekspedisi militer Belanda di Bali Selatan pada 1906.


Ke-288 benda yang masuk daftar repatriasi tersebut meliputi empat arca: Ganesha, Brahma, Bhairawa, dan Nandi, serta 284 benda bersejarah yang dijarah usai pembantaian di Badung dan Tabanan. Peresmian serah terimanya diteken oleh Dirjen Kebudayaan RI Hilmar Farid dan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, dan Ilmu Pengetahuan Belanda Eppo Egbert Willem Bruins di Wereldmuseum, Amsterdam, Jumat (20/9/2024).

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
transparant.png
bottom of page