- 7 Des 2019
- 3 menit membaca
Henriete Josefine Mans masih mengingat kejadian malam itu. Bersama ayah, ibu dan adik-adiknya, putri pertama dari tokoh pejuang Maluku Johannes Latuharhary itu termasuk dalam rombongan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia (RI) yang ikut hijrah ke Yogyakarta.
“Kami naik kereta api diam-diam dari belakang rumah Bung Karno di Pegangsaan Timur. Selama di kereta api, lampu-lampu dimatikan dan kami harus diam sama sekali. Sampai-sampai saat seorang adik saya merengek minta makanan, saya bekap mulutnya pakai tangan,” kenang perempuan kelahiran Surabaya pada 15 Juni 1932 itu.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















