- 30 Jul 2025
- 4 menit membaca
Diperbarui: 1 hari yang lalu
KWIK Kian Gie pulang ke Indonesia setelah bertugas sebagai asisten atase budaya dan pers di KBRI Belanda. Di Jakarta, Kwik mendapat tawaran pekerjaan untuk menjalankan maskapai dagang di negeri Belanda. Kwik tertarik. Meski banting setir dari pekerjaan lama, pekerjaan baru itu bukan soal baginya. Kwik punya modal ijazah lulusan dari Nederlandse Economische Hogeschool (NEH) Rotterdam –sekarang Erasmus University Rotterdam– yang punya reputasi mentereng sebagai sekolah tinggi ekonomi kelas dunia. Tapi, ajakan Bram Tambunan, sang pemilik perusaahan, membuat Kwik tak bisa menolak tawaran tersebut.
“Saya tahu bahwa Bram itu salah satu sahabat Sukarno yang setiap pagi minum kopi bersama di belakang Istana. Setelah itu komunikasi menjadi intensif karena dia sering ke Belanda kan,” tutur Kwik Kian Gie dalam wawancara dengan Historia.ID tiga tahun silam.
Menurut Kwik, Indonesia saat itu diboikot mengekspor hasil buminya ke Eropa melalui Belanda. Pasalnya, banyak eksportir nakal yang berbuat curang. Setelah mereka terima uang pembayaran, barang tak kunjung dikirim, malah ada yang mengirim sampah. Perdagangan Indonesia pun terpuruk karena tak dipercaya. Maka solusinya adalah mendirikan kantor dagang di Belanda yang berbadan hukum sesuai peraturan negara itu.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















